Tanganmu, Ibu

November 1st, 2006 by abcdthea

Tanganmu, Ibu…
Ibumu adalah
Ibunda darah dagingmu
Tundukkan mukamu
Bungkukkan badanmu
Raih punggung tangan beliau
Ciumlah dalam-dalam
Hiruplah wewangian cintanya
Dan rasukkan ke dalam kalbumu
Agar menjadi azimah bagi rizki dan kebahagiaan
(Emha Ainun Najib)

Siang sudah sampai pada pertengahan. Dan Ibu begitu anggun menjumpai saya didepan pintu. Gegas saya rengkuh punggung tangannya, menciumnya lama.
Ternyata rindu padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ibu juga mendaratkan kecupan sayang di ubun-ubun ini, lama. "Alhamdulillah, kamu sudah pulang" itu ucapannya kemudian. Begitu masuk ke dalam rumah, saya mendapati ruangan yang sungguh bersih. Sudah lama tidak pulang.
Ba’da Ashar,
"Nak, tolong angkatin panci, airnya sudah mendidih". Gegas saya angkat
pancinya dan dahipun berkerut, panci kecil itu diisi setengahnya. "Ah mungkin hanya untuk membuat beberapa gelas teh saja" pikir saya
"Eh, tolongin bawa ember ini ke depan, Ibu mau menyiram". Sebuah ember putih ukuran sedang telah terisi air, juga setengahnya. Saya memindahkannya ke halaman depan dengan mudahnya. Saya pandangi bunga-bunga peliharaan Ibu.
Subur dan terawat. Dari dulu Ibu suka sekali menanam bunga.
"Nak, Ibu baru saja mencuci sarung, peras dulu, abis itu jemur di pagar yah" pinta Ibu.
"Eh, bantuin Ibu potongin daging ayam" sekilas saya memandang Ibu yang tengah bersusah payah memasak. Tumben Ibu begitu banyak meminta bantuan, biasanya beliau anteng dan cekatan dalam segala hal.
Sesosok wanita muda, sedang menyapu ketika saya masuk rumah sepulang dari ziarah. "Neng.." itu sapanya, kepalanya mengangguk ke arah saya. "Bu, siapa itu…?" tanya saya. "Oh itu yang bantu-bantu Ibu sekarang" pendeknya. Dan saya semakin termangu, dari dulu Ibu paling tidak suka mengeluarkan uang untuk mengupah orang lain dalam pekerjaan rumah tangga. Pantesan rumah terlihat lebih bersih dari biasanya.
Dan, semua pertanyaan itu seakan terjawab ketika saya menemaninya tilawah selepas maghrib. Tangan Ibu gemetar memegang penunjuk yang terbuat dari kertas koran yang dipilin kecil, menelusuri tiap huruf al-qur’an. Dan mata ini memandang lekat pada jemarinya. Keriput, urat-uratnya menonjol jelas,bukan itu yang membuat saya tertegun. Tangan itu terus bergetar. Saya berpaling, menyembunyikan bening kristal yang tiba-tiba muncul di kelopak mata. Mungkinkah segala bantuan yang ia minta sejak saya pulang, karena tangannya tak lagi paripurna melakukan banyak hal?
"Dingin" bisik saya, sambil beringsut membenamkan kepala di pangkuannya. Ibu
masih terus tilawah, sedang tangan kirinya membelai kepala saya. Saya memeluknya, merengkuh banyak kehangatan yang dilimpahkannya tak berhingga.

Adzan isya berkumandang, Ibu berdiri di samping saya, bersiap menjadi imam. Tak lama suaranya memenuhi udara mushala kecil rumah. Seperti biasa surat cinta yang dibacanya selalu itu, Ad-Dhuha dan At-Thariq.
Usai shalat, saya menunggunya membaca wirid, dan seperti tadi saya pandangi lagi tangannya yang terus bergetar. "Duh Allah, sayangi Mamah" spontan saya memohon. "Neng…" suara ibu membuyarkan lamunan itu, kini tangannya terangsur di depan saya, kebiasaan saat selesai shalat, saya rengkuh tangan berkah itu dan menciumnya.
"Tangan ibu kenapa?" tanya saya pelan. Sebelum menjawab, ibu tersenyum maniss sekali.
"Penyakit orang tua"
"Sekarang tangan ibu hanya mampu melakukan yang ringan-ringan saja, irit tenaga" tambahnya.
Udara semakin dingin. Bintang-bintang di langit kian gemerlap berlatarkan langit biru tak berpenyangga. Saya memandangnya dari teras depan rumah. Ada bulan yang sudah memerak sejak tadi. Malam perlahan beranjak jauh. Dalam hening itu, saya membayangkan senyuman manis Ibu sehabis shalat isya tadi.
Apa maksudnya? Dan mengapakah, saya seperti melayang. Telah banyak hal yang dipersembahkan tangannya untuk saya. Tangan yang tak pernah mencubit,sejengkel apapun perasaannya menghadapi kenakalan saya. Tangan yang selalu berangsur ke kepala dan membetulkan letak jilbab ketika saya tergesa pergi sekolah. Tangan yang selalu dan selalu mengelus lembut ketika saya mencari kekuatan di pangkuannya saat hati saya bergemuruh. Tangan yang menengadah ketika memohon kepada Allah untuk setiap ujian yang saya jalani. Tangan yang pernah membuat bunga dari pita-pita berwarna dan menyimpannya di meja belajar saya ketika saya masih kecil yang katanya biar saya lebih semangat belajar.
Sewaktu saya baru memasuki bangku kuliah dan harus tinggal jauh darinya,
suratnya selalu saja datang. Tulisan tangannya kadang membuat saya mengerutkan dahi, pasalnya beberapa huruf terlihat sama, huruf n dan m nya mirip sekali. Ibu paling suka menulis surat dengan tulisan sambung. Dalam suratnya, selalu Ibu menyisipkan puisi yang diciptakannya sendiri. Ada sebuah puisinya yang saya sukai. Ibu memang suka menyanjung :
Kau adalah gemerlap bintang di langit malam
Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah pendar rembulan di angkasa sana,
Bukan!, kau lebih dari itu,
Kau adalah benderang matahari di tiap waktu,
Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah Sinopsis semesta Itu saja.

Tangan ibunda adalah perpanjangan tangan Tuhan. Itu yang saya baca dari sebuah buku. Jika saya renungkan, memang demikian. Tangan seorang ibunda
adalah perwujudan banyak hal : Kasih sayang, kesabaran, cinta, ketulusan….
Pernahkah ia pamrih setelah tangannya menyajikan masakan di meja makan untuk sarapan? Pernahkan Ia meminta upah dari tengadah jemari ketika mendoakan anaknya agar diberi Allah banyak kemudahan dalam menapaki hidup?
Pernahkah Ia menagih uang atas jerih payah tangannya membereskan tempat tidur kita?
Pernahkah ia mengungkap balasan atas semua persembahan tangannya?
..Pernahkah..?

Ketika akan meninggalkannya untuk kembali, saya masih merajuknya "Bu,ikutlah ke jakarta, biar dekat dengan anak-anak". "Ah, Allah lebih perkasa di banding kalian, Dia menjaga Ibu dengan baik di sini. Kamu yang seharusnya sering datang, Ibu akan lebih senang" Jawabannya ringan. Tak ada air mata seperti saat-saat dulu melepas saya pergi. Ibu tampak lebih pasrah,menyerahkan semua kepada kehendak Allah. Sebelum pergi, saya merengkuh kembali punggung tangannya, selagi sempat , saya reguk seluruh keikhlasan yang pernah dipersembahkannya untuk saya. Selagi sisa waktu yang saya punya masih ada, tangannya saya ciumi sepenuh takzim. Saya takut, sungguh takut,tak dapati lagi kesempatan meraih tangannya, meletakannya di kening.
***

Bagaimana dengan kalian para sahabat? Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau ada, duduk di depan komputer dan membaca tulisan saya ini. Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau bisa menjadi seseorang yang menjadi kebanggaan.Engkau sangat tahu, dibanding siapapun juga. Maka, tak usah kau tunggu hingga tangannya gemetar, untuk mengajaknya bahagia.

Bookmark and Share

Perempuan itu Menapaki Pasir di Pinggir Laut dengan Sepasang Kaki Telanjang

November 1st, 2006 by abcdthea

Masihkah ada orang yang percaya bahwa di laut ada seekor putri duyung yang tiap subuh selalu muncul di pinggir laut? Di punggungnya tergerai rambut panjang yang terlepas dari sampul sanggul. Putri duyung itu menapaki pasir di pinggir laut dengan sepasang kaki telanjang, namun ombak akan segera menghapus jejak kakinya di pasir. Seolah kecantikan dan segala bukti tentang duyung itu dilipatsembunyikan oleh alam.

Ikan duyung? Dengan sepasang kaki telanjang?

Pertanyaan itu yang sering muncul ketika aku mulai menceritakan hikayat seorang putri duyung yang setiap subuh selalu berjalan menelusuri pasir di pinggir laut dengan sepasang kakinya yang telanjang.

Aku kira tidak ada yang aneh dengan ceritaku. Seorang duyung memang telah menginginkan dirinya menjadi manusia, dan itu benar-benar terjadi. Toh, apa salahnya seekor hewan (kalau duyung dalam biologi memang di golongkan sebagian dari hewan, sehingga kusebut seekor bukan seseorang) hendak ingin menjadi manusia daripada manusia yang tak pernah merasa dirinya menjadi bagian dari manusia. Bukankah kehendak Allah selalu bisa saja terjadi.

Duyung itu bisa memakai sepasang kakinya pun ekornya. Ia cukup meniupkan nafas di kepalan tangan, lalu menyentuhkan di ekornya, maka seketika itu ekor yang terbungkus dengan sisik akan berubah menjadi sepasang kaki yang indah. Dan kaki itu, aku menceritakannya dengan berapi-api sehingga orang-orang yang mendengarkan ceritaku seolah percaya aku benar-benar melihatnya, adalah sepasang kaki terindah milik seorang perempuan yang pernah kulihat.

Sepasang kaki? Akan digunakan apa olehnya?

Ini adalah cerita yang sangat panjang. Betapa sedih atau pahit sebuah cerita dalam kehidupan ini, mustilah diceritakan. Pun cerita mengenai seekor putri duyung dengan sepasang kaki telanjang yang ditapakkan di pasir pinggir lautan untuk mencari  ayahnya. 

Ayah?

Ya, seekor duyung itu mencari ayahnya yang kini pergi entah di mana. Semenjak kecil ia tak pernah melihat ayahnya, hingga ibunya menceritakan bahwa dirinya, yaitu seekor duyung itu, memiliki seorang ayah. Ayahnya adalah seorang pelaut ulung yang tak pernah takut dan gentar melawan gelombang dan hantaman badai.

Ayahnya adalah seorang lelaki yang gagah berani. Ia sering berlayar dengan perahu seorang diri. Hingga pada suatu kali perahu yang ditumpanginya menabrak sebuah karang saat badai mengaduk-aduk ombak laut. Lelaki itu terdampar pada sebuah pulau kecil dan indah.Tidak ada yang tahu persisnya dimana letak pulau itu, aku segera menjelaskannya daripada menunggu mereka memotong ceritaku untuk minta dijelaskan. Petapun tak pernah melukis pulau itu. Bahkan satelit tercanggihpun tak bisa menangkap seonggok pulau yang terdapat dalam cerita ini. Konon, menurut cerita, pulau itu bisa tenggelam dan muncul di permukaan. Pulau itu disebut Pulau Bidadari.

Pulau itu disebut Pulau Bidadari karena orang-orang disekitar laut itu sering melihat bidadari di atas tanah itu pada malam hari. Dan penduduk setempat itu lebih sering menemui kemunculan Pulau Bidadari pada saat malam bulan purnama. Menurut mereka yang pernah melihatnya, di pulau itu terdapat pepohonan di tengah segunduk tanah, bebatuan halus yang berkilau memancarkan cahaya rembulan, juga pasir yang seputih gula tempat para duyung menjemur diri di bawah cahaya rembulan, mirip dengan turis-turis yang memanggang tubuh mereka di atas pasir.

Telanjang?

Tentu saja! Tentu mereka tidak memakai BH atau apa sejenisnyalah. Jelasnya, mereka tidak memakai sehelai benangpun di tubuhnya. Kalaupun ada Undang-undang Anti Pornografi tentu mereka akan terkena lebih dulu, begitu kata salah seorang dari orang-orang yang kini berada di depanku untuk mendengarkan cerita. Tawa memekak sejenak, tapi mereka kembali mendengarkan ceritaku.

Seseorang memintaku untuk menceritakan bagian bentuk tubuh para duyung yang sedang bertelanjang. Aku menjelaskan kepada mereka bahwa duyungpun memiliki sepasang payudara dengan lingkaran putting di tengahnya, tapi mereka tidak memiliki pusar. Rambut mereka panjang, dan itu sudah menjadi kebiasaan duyung untuk membiarkan rambutnya tergeragai jatuh di atas pundaknya yang langsat. Mereka tidak punya kaki tentu saja, ya seperti yang diceritakan orang-orang bahwa duyung tak berkaki, tetapi berekor dan bersisik. Mereka juga menstruasi setiap bulan. Kalau mereka sedang menstruasi, mereka akan berbau amis. Sudah menjadi kebisasaan para duyung, jika salah satu dari mereka sedang menstruasi, mereka harus tinggal di suatu tempat bersama duyung-duyung lainnya hingga mereka suci kembali.Tidak ada duyung lelaki, begitu jawabku ketika salah seorang pendengar bertanya kepadaku apakah ada duyung lelaki yang menggauli para duyung perempuan hingga mereka bisa memiliki anak. Tidak, duyung tidak punya suami, kuulangi jawabanku sekedar menegaskan kepada mereka. Sebuah fenomena yang unik, memang. Setiap duyung akan hamil dengan sendirinya. Siklus menstruasi itu beralangsung setiap dua bulan sekali, dan pada usia tertentu si duyung akan mengeluarkan cairan berwarna ungu, dan itu bukan darah. Itu adalah pertanda bahwa duyung tersebut sudah dewasa. Dan dua bulan berikutnya, sudah dipastikan bahwa duyung itu hamil. Dalam seumur hidup, duyung dapat melahirkan tiga sampai empat anak.

Lalu, dimana letak rahim duyung itu?

Sama seperti letaknya rahim manusia, kujawab singkat pertanyaan salah satu pendengar yang sedari tadi lebih tertarik kepada ketelanjangan duyung daripada inti ceritaku. Tapi, sebagai pecerita yang baik aku harus menjawab semua pertanyaan yang muncul di benak para pendengar.

Bisakah kau jelaskan lagi inti cerita mengenai seorang perempuan bertelanjang kaki yang menapai pasir laut setiap subuh seorang diri dan ayahnya?

Pertanyaan ini sudah kutunggu sejak tadi. Ubun-ubunku sudah mendidih tak tahan untuk segera menceritakan kisah ini. Ini berawal dari seorang pelaut lelaki yang gagah berani dan perahunya yang terdampar di Pulau Bidadari. Seekor duyung menemukan sesosok tubuh tengah terdampar di pasir. Duyung itu kemudian membawanya ke rumah. Dengan gemetar, duyung itu menunggu lelaki itu sadar. Ia gemetar, karena ia tahu bahwa resiko yang diambilnya terlalu besar. Ada sebuah peraturan yang musti dijalani oleh para duyung. Mereka melarang perasaan cinta kepada manusia (lebih-lebih lelaki). Itu adalah haram dan dosa. Membiarkan perasaannya mencintai lelaki, itu sama saja menzinakan diri. Dan hal itu diangap sebagai perilaku yang rendah di kehidupan para duyung.Tapi perempuan itu, maksudku duyung itu, mempunyai perasaan keduyungan. Seperti halnya manusia yang punya rasa kemanusiaan. Rasa keduyungannya itulah yang mengantarkan dirinya untuk berbuat hal demikian: menolong lelaki walaupun dirinya tidak boleh menyentuh, melihat atau berbicara dengan lelaki.

Setelah lelaki itu sadar, perempuan itu sangat berbahagia. Lelaki itu bertanya dimanakah kini dirinya berada, dan perempuan itu sambil tersenyum menjelaskan dimana lelaki itu kini berada. Senyum itulah yang membuat lelaki itu merasa jatuh cinta. Lelaki yang kini berada jauh dari permukaan air itu dilarang keluar oleh duyung yang menyelamatkannya. Ia harus tinggal di sebuah cangkang raksasa hingga luka ditubuhnya pulih dan perempuan yang menolongnya beberapa waktu yang lalu itu harus naik ke permukaan air untuk mengambil udara ke dalam kantong-kantong.

Pada suatu malam, karena di permukaan laut selalu malam, perempuan itu menuang udara dari kantong untuk lelaki yang kini tinggal di rumahnya, tapi entah bagaimana detail ceritanya perempuan dan lelaki itu saling bertatapan. Ada semacam kobaran api yang menjelma menjadi hasrat dalam pandangan itu. Mereka bertatapan dengan nyala ragu. Pun duyung itu, bibirnya menceracau untuk tidak melakukannya, tetapi tubuhnya memberikan isyarat kepada lelaki itu untuk disentuh dan diberikan seutuhnya. Dan hasrat mereka terlukis pada nyala lilin yang tertiup semilir angin.

Kuhentikan ceritaku sejenak, biarlah para pendengar melanjutkan imajinasi ini menurut pikiran masing-masing. Sebagai pencerita yang baik, sekali lagi kukatakan, seharusnya aku memberikan ruang yang sebebas-bebasnya bagi pendengar untuk  memaknai cerita itu menurut pengalaman diri pendengar masing-masing.Yang terjadi selanjutnya adalah, ada salah satu duyung yang tak sengaja datang masuk ke rumah itu dan menjumpai seorang lelaki itu. Kabar melesat secepat mata angin yang dilepaskan dari busur cakrawala, dan seluruh Pulau Bidadari itu gempar.Kau harus pergi sekarang, kata duyung kepada lelaki, kau tidak aman di sini. Tetapi lelaki yang gagah berani itu tidak mau meninggalkan kekasihnya seorang diri menghadapi maut yang sudah mengintai dari balik ilalang yang tumbuh di dasar laut. Perempuan itu memohon, air matanya mengalir seperti mata air yang mengalir di sungai kering. Melihat cahaya kepercayaan di mata kekasihnya, lelaki itu akhirnya menuruti apa yang diharapkan perempuan yang kini telah menjadi detak untuk jantungnya dan udara untuk nafasnya.

Cepat, kata perempuan itu, kau harus pergi sekarang. Perempuan itu memberikan buntalan kain saputangan kepada lelaki itu dan beberapa kantung udara untuk persediaan jika ketika menuju permukaan, paru-paru dalam tubuhnya membutuhkan udara. Sebelum sempat  bertanya apa isi buntalan kain saputangan itu, perempuan itu segera menjelaskan bahwa dalam buntalan itu terdapat puluhan mutiara, sehelai benang, dan sebuah jarum pasak laut. Ketika lelaki itu sampai di daratan, duyung itu berharap bahwa lelaki itu mau menyulam mutiara itu dengan jarum dan menyatukan mutiara itu dalam satu helai benang yang jika pada suatu hari ada seorang perempuan cantik berambut panjang yang lepas dari sampul sanggulnya dan dirinya berjalan di pinggir laut menapaki pasir dengan sepasang kaki telanjang saat subuh menyelimuti langit malam itu adalah pertanda bahwa perempuan itu adalah anaknya. Berikan kalung itu, kata duyung, dan nyayikan doa ini jika anak kita belum datang: “Duhai anakku kemarilah, datanglah kepada ayah. Kehidupan laut yang kejam semoga cepat berlabuh di daratan. Datanglah kepada ayah nak, dekatkan wajahmu kepadaku, tatap mataku aku akan mengalungkan rangkaian mutiara dari ibumu ini di lehermu. Duhai anakku, kau lahir di dunia atas kehendak Yang Kuasa, kau tercipta atas dasar cinta. Kalaupun kau terlahir dari sepasang duyung dan manusia hina, kau adalah anakku yang terlahir tanpa dosa. Biarlah orang tua ini yang menanggung dosa yang pernah diperbuat di masa lalu, hingga malaikat dengan sepasang sayap bosan menggiling roda waktu.”Lelaki itu akhirnya pergi, ia menghentakkan kakinya, dan melesat ke arah permukaan laut. Perempuan itu tersenyum bahagia, kalaupun di hatinya terbesit kecewa kenapa pertemuan itu selalu dibatasi oleh perpisahan, tapi perempuan itu merasa lega karena penderitaan yang kini berada di hadapannya tak perlu terbagi dengan lelaki yang dicintai.

Sekelompok duyung sambil membawa kobaran api menyeret perempuan yang telah melakukan dosa dan zina. Tali sebesar dua jari telah mengikatpaksa kedua tangan duyung, pun seutas rantai telah berkalung dilehernya yang kini penuh dengan luka, sehingga tak satu matapun bisa membedakan antara bekas luka dan bekas sepasang bibir lelaki yang kini entah berada di mana.Perempuan itu diseret dengan tangan terikat dibawa ke Batu Peradilan, disanalah keputusan akan menentukan apakah maut atau penderitaan seumur hidup yang akan menjadi garis takdirnya. Perempuan dengan tangan terikat itu didudukkan paksa hingga jatuh tersungkur di bawah kaki Raja Laut. Semua mata jatuh kepada seekor duyung yang tak berdaya. Raja Laut memandang duyung yang kini bersujud di depannya. Mukanya lebam oleh hantaman, darah segar mengalir segar bersama linangan air mata.

Raja Laut itu tak berkata apa-apa kepada duyung, ia memerintahkan kepada pengawalnya untuk mengasingkan duyung itu di Lembah Laut. Lembah Laut adalah sebuah penjara yang seburuk-buruknya tempat. Hewan-hewan buas bisa menjelma apa saja di sana. Kata semua orang, tak pernah ada yang pernah bisa kembali dengan selamat dari tempat yang terkutuk itu.

Ceritakanlah sekarang, kami mohon.

Semua pendengar mengarahkan tatapan harapannya kepadaku, setelah kukatakan kepada mereka aku tak mau melanjutkan cerita. Salah satu dari mereka ada yang menangis, terutama yang perempuan. Untuk sejenak, tidak ada yang berkata. Suasana hening. Seolah daun-daun pepohonanpun terdiam menunggu keputusan yang akan keluar dari bibirku.

Ceritakanlah kepada kami, apakah perempuan itu hidup atau mati. Juga lelaki yang dicintainya. Bukankah setiap cerita yang pedih sekalipun harus diceritakan, bukankah kau setuju dengan ini. Ayolah, kami menuggu nasib perempuan itu dari cerita yang keluar dari bibirmu. Kami mohon…

Setelah tiga bulan perempuan itu kembali. Orang-orang yang kini berada di depanku itu tersenyum sementara sebelum kulanjutkan cerita, beberapa dari mereka meluapkan rasa senangnya dengan mengatakan lega kepada orang-orang di samping tempat duduknya.

Lalu?

Lalu semua penghuni laut sangat terkejut. Semua benak seolah dijejali dengan puluhan pertanyaan dan sebuah tanda tanya besar tentang bagaimana perempuan itu bisa lolos dari maut. Menurut cerita, perempuan itu kehilangan sebelah tangannya ketika melawan makhluk buas di Lembah Laut. Dan perempuan itu bersimpuh di depan Raja Laut. Perempuan itu sudah siap menghadapi takdir yang akan tergaris dalam hidupnya.

Raja Laut tidak menjatuhkan hukuman kepada perempuan yang saat itu sedang mengandung, tetapi Raja Laut menyuruhnya pulang menunggu bayi duyung itu terlahir, barulah perempuan itu akan diberi hukuman. Perempuan itu mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan tempatnya berdiri. Dan kabar kembali menjelma menjadi arah mata angin yang melesat dari busur cakrawala mengabarkan bahwa seorang bayi perempuan telah lahir. Dari sorot matanya, kecantikan bayi itu bakal tak ada yang bisa menandinginya, bahkan seluruh penjuru samudra.

Duyung itu menepati janjinya untuk menghadap Raja Laut untuk menjalani hukuman. Duyung itu bersimpuh dengan bayi yang terbungkus kain tertidur di dekapan dadanya. Raja Laut sangat takjub melihat bayi itu. Bawalah bayimu pulang, kata Raja Laut itu, lalu susuilah bayimu hingga ia tersapih dan kembalilah kau ke sini lagi.Perempuan itu mengucapkan terima kasih dan pulang ke rumah. Ketika melihat wajah bayinya, ia melihat wajah kekasihnya yang kini entah berada di belahan bumi yang mana. Tapi, sebagai seorang perempuan ia sudah mampu mempertahankan sebentuk cintanya yang badai ombak tak mampu menggoyah karang cintanya.

Hingga suatu waktu, perempuan itu datang kembali ke hadapan Raja Laut untuk meminta hukuman. Perempuan itu memberikan bayinya kepada seekor duyung yang telah menjadi sahabatnya semenjak kecil. Ia menitipkan bayinya dengan segenap harap dan air mata. Duyung itu mengangguk tanda mengerti. Dan hukuman musti dijalankan.Pengawal menanam tubuh duyung itu hingga tampak leher dan kepalanya. Seluruh penghuni samudra harus melempar batu ke arahnya. Batu-batu yang mengukir darah dikepalanya tidak dirasakan sebagai suatu hukuman yang pedih dan menyakitkan, tetapi adalah sebentuk cinta. Di dalam hatinya sudah dimaknai arti cinta yang sebenarnya. Cinta tidak hanya sebentuk rasa bahagia, tetapi juga segores luka lara. Hingga bebatuan terserak di antara sebuah kepala yang kini terkulai luka dan darah. Sebuah isyarat bahwa hukuman sudah berakhir. Semua orang pergi seolah tak  pernah ada yang terjadi. Duyung dengan bayi yang kini di dekapnnya berlari ke arah kepala yang kini tak bernyawa. Perempuan itu menangis memeluk kepala yang bersimbah darah. Tangisanpun terpekik dari bayi yang secara naluriah merasakan apa yang disebut dengan kepedihan.

Tak pernah ada yang tahu kelanjutan cerita itu hingga kita sering melihat seorang perempuan berjalan di pinggir laut dengan rambutnya yang lepas dari simpul sanggul dan ia berjalan dengan sepasang kaki telanjang yang ombak selalu menghapus jejak kaki itu, seolah alampun berduka dengan sebait cerita kehidupan dan menyembunyikan cerita itu di balik waktu yang berlalu. Dan jika ada yang bertanya tentang ayah perempuan itu, akan kukatakan sebagai penutup cerita, tak pernah ada yang tahu.

Bookmark and Share

Kenapa Harus Dengan Nama Yang Sama

July 24th, 2006 by abcdthea

310 xxxx kupencet nomor telp dari sebrang sana kudengar suara parau ibu ibu , tanpa salam tanpa basa basi kulangsung bertanya , tante dionnya ada dan dari sebrang terdengar lagi suara parau yang jutek itu , dari siapa nie? dari laras tante . tunggu sebentar , dan tiba2 kudengar lagi suara dion hallo …….. tanpa dia ngomong sepatah katapun lalu aku samber omongannya dengan kata kata yang selama ini ingin ku utarakan , selamat ya dion aku ucapkan selamat padamu , selamat untuk apa? jawab dion . aku hanya isakan tangisku dan sebagai pemecah suasana aku katakana aku sangat sayang sama dion . tapi dion hanya diam seribu basa . selamatya atas hubungan kamu dengan laras , kamu ngomong apa laras? Tanya dion kaget , iya kamu udah temuin dia kan? kenapa harus dengan nama laras juga kamu hianatin aku kenapa harus dengan nama yang sama kamu selingkuh. dengan nada gemetar aku menahan tangisku , maksud kamu apa laras? dion ngelak , gak usak kamu ngelak dion selama ini kamu selallu cemburuin aku hubungan sama rafly padahal kamu yang selama ini hianatin aku , dengan berang dion bentak aku cukup sekarang kamu gak usah ganggu aku lagi laras ! tanpa ada alasan yang dapat menguatkan alasan dirinya dia langsung tutup telp aku langsung redial telp itu dan dion bentak aku lagi akhirnya kami berantem sampe mama dion yang jutek itu tambah muncak amarahnya lagi2 telp ditutup aku terus ngeyel tapi mereka gak nangepin telp dariku dan akhirnya aku putus asa ,

dengan langkah gontai aku keluar dari kbu wartel lalu kubayar billku tampa terimakasih aku langsung pergi dari wartel . menuju rumah kostku tanpa kusadari dari tadi ada orang yang perhatikan aku , dan aku gak pernah peduli di sekelilingku aku hanya memikirkan nasib malang ini aku hanya peduli dengan rasa sakit dihati ini . atas penghianatan dion padaku yang selama ini aku berusaha setia padanya tapi akhirnya kesetiaan ini dibalas penghianatan yang menyedihkan dion selingkuh dengan teman di cybernya dan mereka kopidarat lalu mereka menikam aku dari belakang . Dendie pengakuan co dalam mobil blazer yang sedari aku diterminal sampai aku ke mall dan sampe aku ke wartel dia terus saja ikutin aku , dendie seorang kalangan excecitive muda yang tampan dia berdasi dan berwibawa

Dendie menghentikan laju mobilnya dan dia parkir tepat depan aku , otomatis aku bentak dia untung saja aku gak terserempet . tapi dendie gak peduliin bentakan kerasku dia keluar dari mobilnya dan dia menatapku tak kedip2 sedikitpun , heh kenapa anda melihat saya seperti itu apa saya keliatan seperti orang gila? dengan nada marah aku bertanya pada cowok yang belum aku kenal itu . hehehehe , kenalin nama saya dendie diulurkan tangannya yang bersih hakus dan putih itu , aku gak balas uluran tangnya tapi aku hendak ngeloyor pergi . tiba2 tanganku dipegang dendie dengan erat .

Manies dari terminal aku lihat kamu sednag bingung sampe ke wartel dan keluar wartelpun kamu menangis , mataku terbelalak dan bibirku cemberut ya elah saya amu sedih mau bingung kanapa anda peduliin saya ? dengan senyuman yang manis teramat memikat hati dendie berkata jelas aku peduli sama kamu manies soalnya kamu manies . wajah kamu yang manies itu akan hilang dengan kesedihan kamu yang berlarut larut . aku gak ada maksud lain selain ingin menghibur kamu , manies harus nya kamu tanda Tanya kenapa aku peduli ? karena aku mengenalmu bukan saat ini saja aku sudah mengenalmu lama sekali bahkan aku telah mengagumimu semenjak aku melihat kamu dan aku sangat mengemari karya karya mu . kamu sangat pandai berilusi bahkan wajahmupun terpampang disebuah website dimana aku pernah membaca seluruh profilmu itu . aku tertarik dengan semuanya dengan karya kamu kamu bisa bikin aku selalu penasaran ingin bertemu denganmu sehingga mendorong aku untuk bertanya pada admin tapi mereka gak buka mulut juga , dan tempo hari aku pernah mengirim pesan padamu itupun gak kamu balas sampai pada akhirnya aku lihat diforum nama kamupun ada dan di forum itu ada nama seorang cewek yang selama ini menjadi temen deket kamu , aku beranikan Tanya padanya tentang dirimu dan akhirnya dia mau memberikan alamat dimana kamu kerja , laras ………. aku berasal dari Surabaya tapi keinginan untuk bertemu kamu mendorong aku kejakarta dan aku punya perusahaan otomotif di cikarang jawabarat sebulan sekali aku datang , untuk melihatnya karena disurabayapun aku masih memegang perusahaan dibidang batik . tapi …………….. demi untuk bertemu denganmu aku rela tinggalkan semua itu dan aku serahkan semuanya pada wakilku biar dia yang mengelola untuk sementara waktu .

laras tadi aku datang ketempat kerjamu dan aku tanyakan pada satpam dan dia tunjuk kamu yang bernama laras saat itu kamu berlalu didepanku dan langsung naik ankutan umum . lalu aku ikutin kamu , nah sampe sekarang , akhirnya aku baru bisa ngobrol sama kamu . kenalkan laras namaku dendie . dengan ragu akupun balas uluran tangan dendie iya namaku Laras Pringandani aku berasal dari jawa barat juga tepatnya dikota kembang , dan sekarang aku tinggal di daerah sini gak jauh dari sini .

dendie kayaknya kita gak bagus ngobrol disini lebih baik kita cari tempat duduk biar kita bisa berbicara banyak dan akhirnya pun kami masuk ke kafe kecil yangn gak jauh dari tempat kami ketemu , dendie bertanya tentang kesedihan ku itu dan akhirnya aku lepaskan semuanya uneg2 ini pada dendie , dendie ngasih saran agar aku bersabar dan dendiepun bilang agar aku cari kebenaran tentang berita itu . walaupun kami baru ketemu tapi rasanya aku udah kenal dia lama . dendie orangnya per dan dendie boleh dibilang co karismatik sopan satun nya bagus tapi sayang aku sudah punya tambatan hati walaupun dia menyakiti aku tapi aku yakin suatu saat nanti dion akan sadar bahwa kesetiaan ku lebih dari segalanya . tepat pukul 11.30 akhirnya aku berpamitan pada dendie untuk pulang dan dendiepun akhirnya pulang ke penginapannya. dan besok harinya dendiepun pulang ke Surabaya .

tinggallah aku disini dijakarta yang penuh dengan kepahitan , yang penuh dengan penghianatan dan rasa sakit . badanku lemas sekujur tubuhku gak bertenaga kucoba raih obat panasku yang sudah sebulan gak pernah kusentuh. tiba2 terererererrererreeerrerrt hpku bunyi , ternyata dendie telp . dia udah ada dibandara . aku ucapin sampai jumpa lagi , dan hanya itu yang bisa ku ucapkan sebagai basa basiku . dan dendiepun jawab makasih sayang semoga mass bisa secepatnya kembali kejakarta . Deg hatiku seperti di tonjok badanku makin panas dan bibirku gak mampu lagi berkata apa apa dendie seolah olah memaksa untuk masuk dan merasuki pikirankuk yang sednag kalut dendie seolah olah meminta agar aku melupakan dion dan menjalin kasih dengannya . tiba2 terbayang lagi wajah dendie yang tampan rupawan itu , tapi kusap wajabku dan beristigfar , tiba2 dendie bicara lagi , laras kok kamu diem kamu gak mau ya massmu ini dating menemuimu lagi ? ehm bole aja she dendie klo ada waktu . dengan berat hati aku bicara demikian , yessssssssssss dendie kegirangan ya udah selamat berpisah untuk bertemu lagi ya sayang , aku sayang laraas . hmmmmmmmmmm aku narik nafas sebelum aku jawab hp udah bunyi tutututuutututut dan aku tutup . lalu aku berkemas untuk pergi bekerja karena itu aktivitas rutinku dan seperti biasa jam 6 sore aku pulang dan aku kembali pencet no telp diatas dan suara jutek kembali lagi kudengar yang membuat telinga ini bega ,,,,,, hmmmmmmmmm dion keluar dari sebrang terdengar suara itu sambil kuk dengar banting telp . yaaaaaaaaa apa boleh buat saat ini dion gak megang hp . entah gak megang atau sengaja gak ngasih tau nomornya yang baru aku gak tau , Dan akhirnya aku pulang dengan kecewa .

malam itu aku melamun menatap langit kunantikan dion telp ke hpku tapi hpku bunyi lagi yang telp hanya temen2ku yang lain yang gak aku harepin lagi lagi dendie nanyain kabarku dengan males aku jawab baik baik saja , walaupun dendie seorang yang tampan tapi hatiku tetep gak bisa lupa dengan dion yang selama ini menjadi tambatan hatiku .

hem hari hari kulalui tanpa suara marahnya dion dan tanpa suara mesranya dion aku coba berjalan dengan pikiran tak menentu dan sampe pada suatu saat aku sudah tak sanggup lagi menahan gejolak hatiku tepat pukul 6 pagi kuberanikan diri telp kembali dan akhirnya dion pula yang angkat dengan senang aku panggil dion ini dion kan tak terasa air mata basahi pipiku yang belum kena air itu dion ngomong pelan sekali sampai aku gak bisa dengar suaranya sepertinya dion sudah malas ngomog lagi denganku , dan ketika kutanya apa dia masih mencintaiku dia jawab gak tau ……… dan ketika aku Tanya apakah dia mau bertemu denganku dia jawab malas akhirnya isak tangis ku makin lama makin kenceng aku gak bisa lagi nahan penderitaan ini . Dion terus saja memutar balikan fakta dia gak ada minta maaf padaku . apalagi menyesali perbuatannya . kejam terlalu kejam semua ini menimpaku dan akhirnya aku memohon dengan sangat sebelum semuanya berakhir aku minta kejelasan dari dia kalau memang bener mereka hubungan bagiku relakan saja . Tapi dia menyangkalnya dion hanya bilang  padaku kalau dia sangat penasaran dengan nama nama laras yang lain selain diriku dia hanya ingin tahu bagaimana laras yang lain . padahal aku gak pernah mau tahu dion yang lainnya walaupun banyak nama dion selain dion yang menjadi kekasihku tapi tak sedikitpun aku penasaran .

dengan permohonan yang sangat akhirnya dion mau ketemu malam nanti dan akhirnya kami ketemu dia sebuar tempat biasa kami bertemu disanapun kami gak mampu mengucapkan apa apa kedua duanya hanya bisa diam akhirnya dia mengakui kesalahannya dan hari itu juga laras ( ce selingkuhan dion datang ) dan mereka mengaku bahwa mereka gak jadian mereka hanya berteman tapi aku gak pernah percaya sama tipu daya yang mereka perankan mereka hanya ingin bermanis manis didepanku tapi kenyataan nya pahit dibelakangku . dan akhirnya aku beralu tanpa cintanya dion tapi dion seperti gak ada penyesalan . sampai saat ini aku masih merasakan sakitnya panghianatan dion dan aku gak ingin kenal dengan dion2 yang lain . Dendie yang kerap menemuiku dan saat ini hanya dendie pelipur laraku ,

dan 3 bulan setelah kejadian itu aku dengar kabar dion babak belur dihajar adrie pacar laras yang akhirnya hubungan dion dan laras sampai ketelinga adrie yang saat itu adrie sedang ada di luar daerah dion akhirnya masuk rumah sakit . akupun jenguk dion ketika itu dan kulihat dion terluka parah mukanya ancur dan adrie masuk penjara laraspun pergi entah kemana , aku hanya turut berduka cita atas kelumpuhan kakinya . saat kutemui dion dirumah sakit kulihat wanita jutek itu lagi tiba2 bulu kuduku merinding dan tanpa sadar aku peluk dendie erat 2 dan kulihat air mata mengalir di kedua pipi wanita setengah baya itu . sejuta kesedihan tergambar dari raut mukanya . akupun enggan lama2 berada disitu aku tarik tangan dendie sebelum aku pergi kukecup kening dion tiba2 kulihat air mata keluar dari kedua mata dion yang terpejam itu akupun gak sanggup meninggalkan dion dengan keadaan seperti itu . tapi keadaan memaksaku harus pergi karena esok pagi aku pun harus pulang kampung karena dendie akan meminangku , dengan suara tersendat2 menahan tangis aku ucapin selamat tinggal dion aku doain semoga kamu cepet sembuh tapi tangan dion memegangku dengan erat aku gak mampu lagi menahan tangis rasa sakit yang selama ini kurasakan seolah hilang dengan melihat keadaan dion yang terkulai tanpa daya itu . seolah2 dion yang dulu menyayangi ku kembali padaku tapi sayang semua terlambat sudah bagiku dan bagi dion karena sekarang dendie yang telah mengorbankan segalanya demi kebahagiaanku aku pun tak sampai hati harus meninggalkan dendie yang menyayangiku kini

dengan berat hati akhirnya aku minta izin pada dion
” dion besok aku akan pulang ke bandung dengan dendie neh aku kenalin dendie lelaki yang selama ini menolongku besok pagi kami berangkat dan mungkin malam harinya kami akan adakan pertunangan doakan aku semoga aku bisa memberikan kesetiaanku pada dendie ” dan kulepaskan tangan dion akupun lari dan pergi aku tak ingin melihat kebelakang walau air mataku gak tertahan . akhirnya akupun menikah dengan dendie dan dion pun duduk di kursi roda untuk selamanya.

Bookmark and Share

Cincin Bernama

July 16th, 2006 by abcdthea

Saat pertama melihat tampangnya, tak sedikit pun aku menduga bakal mengalami kecelakaan ini: jatuh cinta! Ia tidak tampan. Bahkan tampilan fisiknya boleh disebut kusut. Gondrong sebahunya pasti hanya sesekali disisir dengan jemari tangannya. Dan ketika hidungku hanya berjarak beberapa senti dari tubuhnya, tak ada yang bisa tertangkap selain aroma keringatnya yang berbaur dengan bau kerak nikotin yang sangat menyengat. Ia laki-laki yang selalu berasap.

Ia juga susah dimasukkan ke dalam kelompok laki-laki supel yang gampang akrab. Bahkan aku baru bisa bercakap-cakap dengannya dalam arti yang sesungguhnya setelah nyaris putus asa. Hari pertama, aku hanya mendapatkan senyuman hambarnya. Aku belum mendapatkan sedikit pun alasan untuk tertarik padanya. Hari kedua, kami baru berjabat tangan, dan kusebut namaku, dan ia sebut namanya.

"Ouw, aku sudah kenal nama itu. Kau cukup banyak menulis artikel seputar persoalan perempuan, kan?"

Aku sedikit terkejut, padahal sudah menduga sebelumnya jika ia akan berkomentar seperti itu setelah kusebut namaku.

"Aku juga cukup banyak membaca tulisan-tulisanmu," kataku, yang kemudian dia sambut dengan ucapan terima kasih. Padahal, di dalam hati aku berkata, "Sayang, kau tak sehangat tulisan-tulisanmu. Kupikir kau orangnya hangat, menarik, tak akan pernah kehabisan bahan cerita. Eh, ternyata nyaris gagap di "darat"! Laki-laki yang tidak menarik!"

Tetapi kekecewaanku lebih dari sekadar terobati ketika menyaksikan penampilannya di depan forum. Di antara moderator dan tiga orang pemakalah yang dipanelkan di dalam sesi itu, ia benar-benar jadi bintang. Tiba-tiba aku melihat dia dengan wajah baru, dengan kesegaran baru, dengan semangat baru. Dia tidak lagi gagap, bahkan terkesan garang, walau tidak segarang tulisan-tulisannya yang selama ini aku kenali (catatan: kemudian aku tahu bahwa sekian banyak tulisannya tidak aku kenali sebagai tulisannya karena dia menulis dengan beberapa nama samaran). Tiba-tiba aku melihat auranya menjadi sedemikian cemerlang. Ia menjadi sangat menarik, bahkan sangat merangsang! Aku pun kasmaran. Benar sekali kata Diat, temanku, bahwa bagian tubuh paling seksi itu adalah otak!

Maka, begitu ia turun dari tempatnya, aku ikutan menghambur untuk menyalaminya, mengucapkan selamat atas kesuksesannya sebagai pembicara, dan yang paling penting adalah memuaskan diri, menghisap aroma keringatnya yang tak jadi soal lagi walau berbaur dengan bau kerak nikotin yang sangat menyengat itu. Ini hari keempat. Dan pada hari keenam, aku harus sudah meninggalkan kota dengan segudang sebutan ini: Kota Budaya, Kota Pelajar, Kota Gudeg, Kota "Seks in the Kost".*)

Hari kelima, waktu istirahat dan makan siang, aku sudah menjadi akrab dengannya. Dari sorot matanya aku tahu betul bahwa diam-diam ia pun mengagumiku. "Pertanyaanmu tadi sangat cerdas," pujinya. Aku tidak terkejut, tetapi sedikit kecewa. Aku ingin ia bilang aku cantik. Ah!

Lalu kami berdiskusi sambil makan, minum, dan sebentar kemudian ia menjadi laki-laki berasap. Rokoknya sambung-menyambung. Tetapi anehnya, aku makin kerasan berada di dekatnya. Waktu pun seperti makin bersicepat. Hanya tinggal satu hari satu malam kesempatan tinggal di tempat yang sangat menyenangkan ini.

"Setelah ini inginmu masuk ke ruang apa?" tanyaku tiba-tiba, dan aku pun kaget sendiri, membayangkan dia tahu persis apa motivasi pertanyaan itu.

"Sebenarnya aku sudah sangat jenuh. Mereka hanya mengulang-ulang kalimat-kalimat lama. Persoalan-persoalan lama. Lagu lama. Aku sih pengin jalan-jalan saja. Esok sudah hari terakhir. Tapi…."

"Boleh aku ikut?"
"Oh, ya? Sebenarnya aku mau ajak Titok, tetapi dia pulang tadi pagi, ditelepon istrinya. Katanya ada sesuatu yang penting yang mesti cepat ia selesaikan."
"O, Titok yang dari Solo itu, ya?"
"Ya. Kenal dia?"
"Kenal, terutama dari tulisan-tulisannya."
"Ya, aku juga suka membaca tulisan-tulisannya. Aku juga baru mengenalnya secara langsung di sini, terutama karena harus sekamar dengannya."

Sebentar kemudian kami sudah berada di sebuah taksi. Keliling kota. Turun di warung ikan bakar, makan sama-sama, lalu jalan kaki sama-sama. Lelah, naik taksi lagi, turun, jalan-jalan lagi, begitu entah sampai berapa kali ganti taksi. Lalu, tiba-tiba kami sudah berada di pusat kota. Orang bilang, belumlah sempurna mengenal kota ini tanpa pernah menyusuri jalan yang satu ini.

"Jika aku ingin memberimu tanda mata, apa yang kauinginkan?" demikian pertanyaannya, sangat mengejutkanku! Dan yang lebih mengejutkanku lagi adalah jawaban spontanku, "Cincin!"

"Oh, ya?"
"Tapi bukan cincin emas. Aku menginginkan sebentuk cincin perak. Kau mau membelikannya untukku? Lalu, sebagai kenang-kenangan dariku, apa yang sebaiknya kubeli untukmu?"
"Cincin."
"Ha?"
"Aku sudah punya cincin emas, aku juga ingin punya cincin perak, yang di lingkar dalamnya terukir namamu."
"Hah…?"
"Apakah permintaanku berlebihan?"

Aku tidak memberikan jawaban berupa kata-kata untuk pertanyaan itu. Tetapi kemudian aku penuhi permintaannya dan dipenuhi pula permintaanku. Kami, masing-masing mendapatkan sebentuk cincin "bernama". Ada namaku pada cincin yang kubeli untuknya, dan ada namanya pada cincin yang dia beli untukku. Aku merasa sangat senang, jika terlalu berlebihan untuk disebut bahagia. Rasanya seperti ketika waktu kanak-kanak dulu mendapatkan baju baru, atau hadiah menarik dari ayah atau ibu. Hatiku berbunga-bunga. Bunga warna-warni: merah, kuning, putih, biru. Aku hampir saja melompat ke dadanya yang kerempeng itu. Coba, jika benar itu kulakukan dan kemudian ia terjengkang dan terkapar dalam keadaan aku bertahta di atas dadanya, betapa konyolnya. Hahaa, sebenarnya aku ingin mengatakan, "Betapa dramatiknya!"

Kemudian tibalah saat yang menyedihkan itu. Acara berakhir, dan aku harus berpisah dengannya.

"Kau selalu di hatiku," gombalnya.
"Ah, terlalu dalam. Aku ingin berada di atas dadamu saja," lucuku.
Tetapi dia tidak tertawa. Aku juga. Kami benar-benar bersedih.
"Jangan bosan-bosan membalasnya, aku akan rajin mengirimimu SMS," pintanya.
"Tentu. Bisa jadi aku akan lebih rajin mengirimimu."
"Ya, kirimkan rindumu padaku."
"Tentu!"

Di bandara kulihat matanya berkaca-kaca. Sayang, kami harus menaiki pesawat yang berbeda. Ada keharuan yang mendesak-desak ketika kami saling melambaikan tangan. Sama-sama melambaikan tangan kiri, sekalian untuk saling meyakinkan bahwa kami memakai cincin bernama itu di jari manis kami. Aku yakin dia tidak sedang berbasa-basi. Seperti aku, tidak sedang berbasa-basi. Kini, aku sedang melayang-layang menyibak gugusan awan, lalu menukik tajam, bagai tersedot mulut jurang tanpa dasar itu: cinta!

Berlama-lama aku memandangi sebentuk cincin yang melingkar di jari manisku ini. Lalu kulepas, kupandangi deretan huruf di lingkar dalamnya, sebelum kemudian kupakai lagi, kulepas lagi, kupakai lagi… Pikiran dan perasaanku menjadi sangat sibuk. Seolah aku sudah tidak kuasa mengendalikan diri. Tiba-tiba aku sudah menyalakan komputer.

"Thing, thung, thing…."
Ouw! Itu suara ponselku jika menerima SMS.
"Aku mulai gelisah, cemas, dan merasa kesepian. Aku merindukanmu!"
"Oh, aku juga."
"Aku yakin, aku sangat mencintaimu."
"Rasanya, aku juga."
"Oh, ya? Kita menikah saja, ya?"
"Hm, secepat ini kaubuat keputusan? Aku takut kau sedang mabuk."
"Mabuk? Aku tak suka minum."
"Mabuk asmara, maksudku."
"Ah, percayalah padaku."
"Aku percaya. Tetapi kapan kita akan menikah?"
"Sekarang juga!"
"Ha…? Sekarang…?"
"Ya. Kunikahi kau dengan segenap cintaku. Tak sabar lagi aku untuk memanggilmu sebagai istriku."
"Ya, kuterima cintamu. Aku bersedia menjadi istrimu, suamiku!"
"Oh, istriku….!"
"Ya, suamiku…!"
"Chpmshshmmmm…..!"
"Mmmmuach…!"
Lagi, di depan komputer, berlama-lama kupandangi sebentuk cincin yang melingkar di jari manis ini. Lalu, kulempar ke dalam keranjang sampah sekantung cincin bernama yang kubangga-banggakan selama ini. Dan sambil sesekali membalas SMS "suamiku", aku pun mulai menulis, "Saat pertama melihat tampangnya, tak sedikit pun aku menduga bakal mengalami kecelakaan ini: jatuh cinta! Ia tidak tampan…."***

*) Seks in the Kost, judul buku karya Iip Wijayanto (Penerbit Tinta, Jogjakarta, 2003).

Bookmark and Share

Kakek Marijan

July 16th, 2006 by abcdthea

Got meluap. Bangkai tikus sebesar kucing digiring air busuk kehitaman. Tersumbat kental. Maghrib. Deretan gubuk mirip kandang babi. Senyap. Sesekali terdengar kecipak langkah di atas air. Suara tawa sayup orang-orang merubung siaran acara lawak di televisi. Gubuk di ujung gang, dengan remang cahaya listrik 5 watt, Kakek Marijan terengah. Matanya nanar menatap Narto, cucunya, membeku dengan muka membiru tengkurap di sisi bak.

Kakek Marijan mengelap keringat yang membanjir. Pelahan diseretnya mayat cucunya itu. Dimasukkan ke dalam karung yang telah disiapkan dengan rapi. Gerimis turun lagi dan langit makin pekat ketika Kakek Marijan menaikkan karung ke dalam gerobak, dan perlahan menariknya menyusuri gang demi gang becek berlumpur. Roda gerobak seperti menggelinding di atas sungai. Entah ke mana. Narto, cucu yang sebetulnya sangat disayanginya, terguncang-guncang. Namun tentu saja bocah itu tidak merasakan dingin ataupun sakit karena nyawanya telah melayang.

"Maafkan Kakekmu," begitulah kalimat yang keluar dari mulut Kakek Marijan ketika hendak membekap mulut Narto, bocah umur tujuh tahun, dengan bantal. Narto meronta dan cuma meronta ketika Kakek Marijan membopong tubuhnya dan membenamkannya ke dalam bak penuh air. Narto mengerjat beberapa saat sebelum lunglai, dan akhirnya mengeras. Tidak ada jalan lain, pikir Kakek Marijan, untuk membalas sakit hatiku pada ayahmu. Aku sudah terlanjur tersinggung dan tidak bisa memaafkan menantuku sendiri.

Kakek Marijan teringat lagi ucapan menantunya yang menyebabkan ia tersinggung dan sakit hati. "Tua bangka tak berguna, selalu saja menyusahkan orang." Kakek Marijan memang cuma bisa memendam kalimat itu dalam benaknya. Rupanya bukan sekali itu si menantu melontarkan kalimat dan perilaku yang menyakitkan, melainkan berulangkali kata-kata kotor menyembur dari mulut menantunya, baik bentakan maupun halus namun penuh nada ejekan. "Seharian nongkrong. Bikin kandang merpati saja nggak becus. Huh! Cuma menunggu nasi mateng saja kerjamu." Demikian si menantu berujar seraya membanting pintu dan sengaja menyenggol teh tubruk kesukaan Kakek Marijan. Teh tumpah dan gelasnya pecah. Kakek Marijan tersuruk-suruk memunguti serpihan beling. Si menantu masih berujar, "Pecahkan saja semua biar habis!" Kakek Marijan masih melihat menantunya membuang dahak kental persis di depan mukanya. Narto yang tiba-tiba muncul dan memeluknya dari belakang, dengan cepat direnggut ayahnya, "Jangan dekat-dekat si pemalas, ayo masuk."

Kakek Marijan ingat tatapan jijik menantunya yang seakan menghunjam ke dasar tulang. Dari kamarnya yang disekat kardus lapuk Kakek Marijan mendengar menantunya menghardik, "Tidak tahu bagaimana susahnya cari makan. Kalau tidak ada polisi sudah kuracuni." Lalu terdengar tape disetel keras-keras.

"Iblis! Manusia tak tahu adat, tak tahu balas budi. Dasar komunis," kata-kata itu cuma digumamkan Kakek Marijan dalam kamarnya. Memang si menantu kadang bisa juga bersikap santun dan manis. Tapi hati Kakek Marijan telanjur cedera dan menyimpan dendam. Meski anaknya selalu bilang. "Jangan dimasukkan ke hati. Memang sifatnya sudah begitu dari dulu. Anggap saja angin lalu." Kakek Marijan mau mengatakan, perbuatannya sudah keterlaluan, tapi selalu urung. Ia paham, anaknya tentu lebih membela suaminya. Makanya ia lebih senang memupuk dendam di hatinya. Kakek Marijan tahu dirinya tidak berdaya dan mustahil dapat melampiaskan dendamnya pada sang menantu secara fisik. Waktu jadi terasa panjang dan sangat menyiksa setiap ia harus bertemu menantunya dalam rumah yang sempit, di mana nafas para penghuninya terdengar satu sama lain. Makanya Kakek Marijan lebih sering keluar dari kamarnya, berjalan-jalan dari gang ke gang, menyusuri kali yang arusnya lambat dan airnya pekat membawa segala macam limbah sambil mengajak Narto setiap menantunya berada di rumah setelah seharian pergi entah ke mana mengais rejeki.

Sering memang, Kakek Marijan punya kesempatan bagus melampiaskan dendam dengan menghantamkan linggis di kepala menantunya ketika sedang mendengkur. Tapi ia tak juga kuasa melakukanya. Selalu dihalangi rasa cemas cucunya jadi yatim dan anaknya jadi janda. Padahal ia tahu persis anaknya seringkali mendapat perlakuan kasar suaminya. Tapi Kakek Marijan maklum, mereka tetap saling mencinta. Ditambah lagi keadaan dirinya yang cacat. Ia tak mau terlunta-lunta dan mati di pinggir rel kereta.

"Hhh, apa maksudnya Tuhan menciptakan makhluk sepecundang diriku." Demikian Kakek Marijan sering menggugat nasib buruk yang melilit dirinya. Dia cuma sanggup menggugat dengan keluhan-keluhan cengeng yang membuat dia kadang malu sendiri. "Kenapa aku tidak bunuh diri saja." Nah niat ini pun cuma sekadar niat yang tidak kunjung dilakukan. Tentu takut akan rasa sakit yang pasti dihadapi orang yang meregang nyawa secara paksa. Dia heran sendiri kenapa mesti takut menghadapi rasa sakit yang tentu tak terlalu lama menyengat. Padahal hidup yang dihadapi pun sudah begitu menyakitkan, dan terlalu cukup untuk jadi alasan buat diakhiri.

Dendam di hati Kakek Marijan kian menggunung. Selalu ia tahan-tahan untuk diletuskan. Rencana membunuh sang menantu jelas sulit dilakukan. Dia mulai berpikir, menghitung-hitung apa yang harus dilakukan supaya sang menantu laknat merasakan sakit hati seperti yang dialaminya. Ya, Kakek Marijan hanya ingin menantunya merasa sakit hati. Tak harus menyakiti fisik, apalagi membunuhnya.

Cara yang pernah ia rencanakan namun urung dilakukan adalah menyuruh anaknya menyeleweng. Ini tak dilakukan jelas karena ia tak mungkin bekerja sama dengan anaknya yang tentu saja lebih membela suaminya.

Kakek Marijan terus berjalan terseok-seok menarik gerobak. Hari makin gelap, sedang gerimis tetap setia mengguyur tubuh rentanya yang mulai menggigil. Berkelebat terus-menerus di kepalanya wajah sang menantu yang bermata merah, menghardik, "Matikan tapenya, tua bangka! Maghrib. Tidak juga sadar mau masuk kubur. Bukannya ibadah." Mengiang terus sepanjang waktu kata-kata itu. "Aku memang komunis, tapi tahu menghargai orang ibadah."

Kakek Marijan pantas heran dengan ucapan terakhir yang terlontar dari mulut menantunya itu. Yang ia tahu, komunis ya komunis. Anti agama. Meski ia juga tak peduli apa itu komunis, apa itu agama. Apa itu ber-Tuhan, apa itu anti Tuhan. Yang jelas menantunya telah menyebabkan hatinya remuk parah. Dan ia tak menemukan cara membalaskan sakit hatinya. Sampai kemudian muncul gagasan gila; membunuh cucunya sendiri. Ia tahu Narto begitu berharga bagi ayahnya yang tak lain menantunya sendiri. Narto satu-satunya harapan bagi ayahnya yang sangat dibanggakannya. Anak itu tidak boleh disakiti. Bila sampai terjadi ayahnya mati-matian membela. Kakek Marijan pernah melihat bagaimana sang menantu nyaris menggolok orang yang berani-berani menyebabkan Narto menangis. Satu hal yang memang seharusnya membuat ia besar hati.

Namun pada saat-saat begini ia bertekad membunuh cucunya sendiri supaya ia bisa puas melihat menantunya remuk redam. Maka, begitulah, saat yang ditunggu-tunggu tiba. Malam itu sang menantu bersama istrinya berpesan supaya menjaga Narto baik-baik. Mereka tidak menjelaskan hendak ke mana dan berapa lama. Kakek Marijan cuma diberi uang untuk makan mereka berdua selama beberapa hari. Sempat ragu juga sebetulnya ketika malam itu ia hendak membunuh cucunya sendiri. Ditatapnya wajah Narto yang persis wajah sang menantu. Dihidup-hidupkan dendam di hatinya. Nyala merah mata si menantu yang menatapnya dengan jijik. Hardikan-hardikannya diputar lagi di telinganya seperti memutar rekaman kaset. Dan memang tumbuh juga. Kakek Marijan bagai tidak melihat wajah Narto yang tengah terlelap dalam dekapannya, melainkan wajah bengis sang menantu. Ia terlonjak, bangkit meraih bantal?
***
Kakek Marijan berhenti di tepi kali yang permukaan airnya memantulkan lampu-lampu gemerlapan dari kendaran yang berseliweran. Di kali ini sering dilihatnya mayat mengambang kembung entah siapa. Orang mati dibunuh atau bunuh diri. Ah, sama saja: mayat. Dan kini cucunya bakal jadi salah satu dari mereka. Ya, semuanya sudah terjadi seperti takdir. Pada saat demikian muncul lagi keberaniannya yang lain; Kakek Marijan berniat untuk turut mecemplungkan diri. Mati. Ini jalan yang paling aman barangkali, begitu ia berpikir. Sebab ia tak mungkin lagi pulang dan menghadapi kemarahan sang menantu yang cepat atau lambat tentu akan tahu ia yang telah membunuh cucunya sendiri.

Lebih aman aku mati bunuh diri ketimbang digebuki sang menantu. Ya kalau langsung mati. Tidak begitu berat menanggung risiko. Kalau diseret ke kantor polisi, diadili, lantas masuk bui?***

Bookmark and Share

Seutas Benang Merah

June 8th, 2006 by abcdthea

Konon utas itu terbuat dari bahan tak tembus mata. Sangat tipis. Namun amatlah pipih. Kekuatannya kadang kala melampaui baja.

        Konon utas itu berwarna merah. Orang negeri ini menyebutnya sebagai utas benang merah.

        Aku sendiri belum pernah melihatnya.Akan tetapi kurasakan utas itu memang ada. Yang paling menakjubkan tentang benang ini. Daya ikat yang luar biasa. Tenaga ulurnya pun tak terhingga . Serupa serat optik pada teknologi komunikasi terkini. Mampu menghubungkan jarak ribuan hingga puluhan ribu kilometer. Bisa jadi lingkar bumi dikelilinginya. Antariksa pun dijangkaunya. Mungkin cuma akhirat saja jadi batas pemisahnya .

        Pada diriku sendiri , aku tak tahu. Sejak kapan utas seperti itu terbentang dalam lembah hatiku. Apakah tatkala aku masih seorang gadis polos ? Hatiku bersih bak lembar kertas belum tertulisi. Pertemuan. Perkenalan. Kecantikan. Ketampanan. Kemudaan segar.Tiap sejoli tentunya tak akan luput dari naluri bercinta. Cumbu rayu .Ciuman hangat. Pelukan mesra. Mungkin pada masa-masa seperti itulah mulai terpintal utas benang merah.

        Ketika periode pacaranku berakhir dengan perkawinan. Aku baru sadar keberadaan utas benang merah dalam diriku. Membuatku tak mampu lagi mendengar suara nalar. Sesungguhnya menikah dengan pria beda bangsa bukanlah hal mudah. Pada saat aku mulai hamil . Kudapati bukan cuma perutku membuncit oleh bibit kehidupan pasanganku. Hatiku ikut pula menggembung. Sarat. Padat. Penuh keinginan tulus mengabdi padanya.Memahami kemauannya. Melayani keperluannya. Agar dia senantiasa nyaman bahagia.

        Pada malam-malam suamiku terlambat pulang. Tak terhitung berapa lama aku sering terjaga. Pelupuk mata tak mampu dipejam. Seluruh penghujung syaraf tercengkam tegang. Telingaku jadi awas menangkap bunyi-bunyi malam.

        Manakala kudengar gerit ban memasuki halaman. Aku melompat gembira. Kusambut ia penuh ceria .Kuciumi lega.Teruntai sebutan syukur .

        "Duh..Gusti. Duh…Pangeran. hatur nuhun Kau ‘tlah ijinkan suamiku balik ke pangkuanku lagi.."

        Sebegitu kukuh utas benang merah mempertautkan batinku. Aku cuma mengangguk pasrah tatkala suatu hari ia mengajakku hidup di negaranya. Tak kuhirau tangisan ibu. Kutulikan telinga terhadap cegahan kakak. Utas tersebut menyebabkan aku mutlak berkeyakinan bahwa kemana lakiku pergi. Walau ke belahan dunia terujung pun,.kuwajibmengikuti.

        Maka terbanglah aku meninggalkan bumi lahirku. Turut berdiam di negeri yang sudah tersohor kemajuan teknologinya itu. Kujalani kerutinan macam nyonya rumah lainnya. Bangun pagi. Menyediakan sarapan Meladeni semua keperluan sebelum anak berangkat sekolah dan suami pergi bekerja. Setelah melepas mereka. Pelbagai pekerjaan berderet menanti. Membereskan kamar. Mencuci.Memasak. Menyeterika.Semua harus kukerjakan sendiri.Sebab mustahil memakai PRT. Aku sanggup mengatasi semuanya. Barangkali usiaku muda. Tak gampang diserang lelah. Tapi bukan tak mungkin berkat kehadiran utas benang merah. Apapun yang kulakukan tak ada rasa bosan atau jenuh Perasaanku tentram. Batinku damai.

        Kuingat pada suatu malam. Hujan turun sangat lebatnya. Kilat. Badai.Guntur. Menyambar. Menghempas . Menggelegar. Aku samasekali tak diterpa ketakutan.

        Sebab suami dan anakku sedang terlelap disampingku. Tiba-tiba aku tergugah oleh rasa amat menyentuh. Aku bangkit.Kuambil pulpen. Kutulisi halaman diariku.

        Bumi boleh gonjang-ganjing.Manusia boleh berperang. Tapi dalam ruang ini Bersama kehadiran dua mahluk amat kukasihi. Di sinilah firdausku

        Boleh jadi pada kepipihan benang merah tergantunglah hati bahagia tiap wanita ? Apalagi jika sang suami lelaki punya tenggang rasa .Berperilaku lembut. Tak mau menyakiti. Penuh kasih pada keluarga. Dalam kehidupan sehari-hari aku kerap menampak perempuan-perempuan bahagia seperti itu. Tak pernah berambisi punya prestasi lain.Kecuali jadi isteri patuh. Setia. Ibu yang baik. Sehingga sebuah surga tercipta di telapak kakinya.

        Ada juga sosok-sosok lain yang sering tak berada dalam rumah. Tapi masih kukuh tertambat pada utas benang merah. Karena kemampuannya menyelaraskan pekerjaan di luar dan dalam rumah tangga.

        Aku cenderung menyebut mereka kaum adidaya atau mungkin yang kebetulan lahir di bawah sinar bintang kejora . Beruntung punya pasangan yang mau menghargai kelebihan serta sudi mengerti cita aspirasinya.

        Baiklah ,kukatakan sejujurnya saja. Aku sungguh tak bermaksud menjadi pesaing. Apalagi memangkas sebuah harkat diri. Ia bapak anakku. Justru ingin kuringankan bebannya. Anak yang kian besar. Pengeluaran tambah meningkat. Kami hampir tak pernah bisa menabung.

        Aku pernah terpekur di depan sebuah toko kacamata. Memandang lama-lama pada barang-barang yang terpajang. Aku memang sedang butuh sebuah kacamata baru. Yang kupakai sudah tak memenuhi syarat. Setelah empat bulan lewat. Itupun sesudah sangat berhemat-hemat.Baru aku dapat kembali ke toko itu lagi untuk membeli barang yang kuperlukan.

        Terbukalah kesadaranku. Utas benang merah saja tak akan bisa diandalkan menghadapi realita hari dan hidup. Kucari akal untuk memperoleh penghasilan tambahan. Kucoba memasarkan sejenis produk Indonesia. Setelah sebelumnya kupelajari dulu tatawarna dan desain-desain yang disukai masyarakat di situ. Tak nyana kreasiku dapat sambutan.

        Suatu kali kuberanikan mengikut pameran dagang. Ternyata ada beberapa perusahaan besar mau menurunkan pesanan.

        Keberhasilanku mendapatkan sumber pemasukan ekstra membuatku tak perlu lagi berpayah mengirit uang belanja. Aku jadi lebih mampu membeli lauk dapur lebih enak dan banyak. Bahkan juga mentraktir suami dan anak makan-makan di restoran.

        Maka aku lalu bekerja giat. Bagai seekor alap-alap. Kuupayakan untuk selalu mengejar, menangkap, mencengkeram tiap peluang. Jadilah aku ,dari nyonya rumah lugu ,menjelma seorang wanita pebisnis lincah.

        Waktuku banyak tersita oleh pekerjaan. Lalu sejak kapan sesungguhnya aku merasa utas benang merah di dalam mulai tertarik-tarik ,terbetot-betot ?

        Barangkali bermula dari suatu pagi kala aku tak mampu bangun awal sebab kemarinnya kelelahan bekerja lembur ? Ada barang-barang yang mesti kupak dan kukirim ke langganan tanpa bisa ditunda. Akibatnya suamiku berangkat kerja berperut kosong bahkan tidak juga seduhan teh hijau hangat sempat menghangati kerongkongannya.

        Mula-mula aku merasa sangat berdosa. Namun perasaan tak enak segera tertepis dengan lipuran. Toh di negeri super modern , segala bentuk kenyamanan telah terkemas bagi warganya. Tak sempat sarapan di rumah ? Mampir saja di kedai -kedai tersebar pada tiap sudut stasiun. Pasti ada kopi hangat. Aneka roti, kue.

        Kalau ingin lebih ekonomis. Masuk saja ke toko mini serba ada yang senantiasa buka dua puluh empat jam. Ada nasi kepal. Nasi kotak. Sandwich .Spaghetti . Tinggal comot menurut selera. Bayar di kasir .Makannya bisa sambil berdiri atau duduk sembari tunggu kereta masuk.

        Aku mulai senang bertindak praktis. Memasak makanan yang gampang-gampang. Membersihkan rumah ala kadar. Supaya lebih banyak waktu, tenaga,pikiran yang bisa kucurah pada keaktipan yang nyata-nyata telah bisa mendongkrak ekonomi keluarga.

        Tanpa kusadari volume suaraku jadi berubah. Irama bicaraku menjadi cepat. Lalu juga terkesan keras. Mungkinkah karena begitu sering kupakai telepon internasional guna menyampaikan order-order. Jadi demi menghemat pulsa. Aku terpacu bercakap dengan nada terburu sampai mirip-mirip penyiar sepak bola . Aku pernah diprotes suamiku mengenai masalah ini. Tapi kuanggap dia hanya sekedar ingin mengolok.

        Kuakui , semenjak terjun dalam dunia usaha. Beberapa bagian dari kewanitaanku terasa terkikis. Kupikir ini risiko. Tak seorang tahu bukan ? Apa tepatnya kualami begitu menjadi wanita wirausaha. Laksana seekor pelanduk yang disuruk ke dalam rimba raya. Tiap langkah ke depan harus kugayuti dengan kewaspadaan. Kalau tidak bisa-bisa aku jadi mangsa oleh binatang lainnya.

        Tumbuhlah aku jadi perempuan lugas. Tegas. Tak pernah mau dibelit ragu dalam hal memilih keputusan. Sifat-sifat seperti ini ternyata banyak menolong. Buktinya usahaku kian berkembang. Aset bertambah. Selain itu aku mampu juga menanggung keseluruhan beaya rumah tangga.

        Kuberikan kesempatan suamiku menabung pendapatannya sendiri. Dengan harapan agar ia dapat mengumpulkan modal sekiranya suatu waktu ia ingin ikut pula menjadi seorang wiraswasta. Sedihnya bukan pujian kuperoleh. Lagi-lagi protes: "Aku merasa hidup di rumah ini seperti dengan sesama lelaki. Kau sudah begitu mandiri. Semua persoalan kau putuskan sendiri. Segala sesuatu cenderung kau tolok ukur dengan uang."

        Aku diam . Tak ingin memancing suasana panas. Tapi sebenarnya di dalam aku punya segudang jawaban. Sesungguhnya, oh, sesungguhnya aku bukan bermaksud mendewakan materi. Yang kudambakan hanya sekuriti. Jaminan buat menyongsong hari tua. Kalau kupunya simpanan , tentunya anakku tak akan perlu terbebani untuk membiayai kehidupan kami di usia lanjut kelak

        Kupikir lagi ,bahwa hanya pada umur umur tertentu saja aku dapat bekerja keras. Apalagi peluang atau rejeki belum tentu datang berulang kali.

        Utas benang merah semangkin terasa terhela-hela , terhentak-hentak. Aku tak dapat mengingat kapan persisnya aku mulai berhenti tertawa berdua. Setiap dalam perjalanan mobil bersama aku lebih banyak diam. Lama-lama mengantuk.Jatuh tertidur.

        Di rumah, suamiku lebih banyak terpaku bisu di depan kotak televisi. Aku sendiri sibuk bermain dengan angka angka di lajur pembukuan. Ritus-ritus yang biasa dilakukan terasa kering dan hambar.

        Sampai pada suatu hari aku menemukan sesuatu luar biasa pada rekening telpon rumah kami.Tagihan melangit untuk percakapan internasional yang terlalu sering dan berjam-jam.

        Ketika kutelisik. Ia tidak menyangkal. Justru bahkan menangkis. " Aku berhak merasa kesepian bukan ? Soalnya di rumah ini sudah tak ada yang bisa diajak bicara lagi " Suara suamiku terdengar jauh lebih lantang dariku. Aku tak sanggup menyahut apa-apa. Yang kuingat aku hanya bisa menangis. Apalagi setelah kemudian kuketahui bahwa perselingkuhan itu telah berjalan terlampau mendalam.

        Utas benang merah terasa mangkin tipis dan menggelambir. Herannya tak jua menjadi putus. Apa memang ia terbuat dari bahan yang sakral.?

        Berhari.Berminggu.Berbulan. Aku begitu kerap berurai air mata. Sampai suatu saat aku merasa sudah tak tahan lagi. Aku mengambil gunting. Kress. Kupotong utas merah yang masih terasa membelit itu.

        Di luar dugaan .Ada yang menetes. Mengucur. Mengalir. Terasa nyeri,teramat pedih. Ternyata utas benang merah telah begitu menyatu denganku sehingga tak mungkin bisa dipotong tanpa melukaiku juga.

        Kini genap tiga tahun aku hidup tanpa jalinan benang merah. Luka itu mulai mengatup dan mengering. Cuma perasaanku masih saja seperti seseorang yang pernah mengalami kecelakaan dan kehilangan sepotong anggota badan. Ada sesuatu lenyap tak pernah tergantikan.

        Lantas aku sering bertanya jawab pada diriku sendiri. Seandainya, oh, ya..ya..,seandainya saja aku tak perlu neko-neko, asal tawakal , pasrah dan nrima. Apapun kondisinya. Mangan ora mangan. Mungkinkah aku tak perlu harus kehilangan utas benang merah ? Boleh jadi nasibku akan seperti jutaan wanita bahagia lainnya. Berlumur dengan cinta. Berkubang dalam cinta. Menarik dan menghembus napas bersama cinta. Wallahualam.

Bookmark and Share

Tepi Batas

May 31st, 2006 by abcdthea

PUKUL dua dini hari. Sebuah mobil sedan berkaca gelap berhenti di garasi. Kirno segera turun membuka pintu belakang. Mirna, perempuan cantik setengah baya meringkuk ngorok di situ. Pemandangan ini jauh lebih nyaman. Beberapa menit sebelumnya mulut perempuan itu meracau sepanjang jalan. Seperti biasa, Kirno harus memapah perempuan itu. Kecuali ia tega membiarkan majikannya ambruk sebelum kakinya menyentuh lantai.

Tapi tiba-tiba perempuan itu menggeliat bangun. Wajahnya kusam, letih, dan jengah. Sesaat mata perempuan itu mengerjap-ngerjap lalu menatap aneh ke arah Kirno dan ruang sekelilingnya. Ia seperti baru sadar di mana kini berada. O, tidak! Tidak! Kesadaran perempuan itu belum pulih sepenuhnya. Lihatlah, tangannya tiba-tiba sibuk menutup kedua telinganya seperti ada serangga yang hendak mengganggu. Wajahnya gerah. "Kkirno…. Mmatikan tape-nya… bi…bising banget…," suara Mirna gagap bergetar, mengambang.

Kirno kaget tapi kemudian tersenyum. "Mmaaf, Bu. Dari tadi tape mobil tidak menyala. Ibu terlalu mabuk, sebaiknya ibu langsung istirahat…," Kirno bicara hati-hati. Enam bulan bekerja membuatnya paham bagaimana menghadapi orang mabuk.

"Tterus…ssuara apa iii…itu?"

Sejenak Kirno memiringkan kepalanya. Ia mendengar bayi menangis dari rumah sebelah. "Oo… itu suara bayi, Bu. Kemarin tetangga sebelah baru saja melahirkan."

Bayi? Ada sentakan kecil di jantung Mirna.

Mirna keluar dari mobil dengan cara menggeser pantatnya. Ia hampir jatuh pada langkah pertama. Tubuhnya benar-benar tak bertenaga. Untung Kirno sigap menahan tubuh perempuan itu. “Bbayi? Wwaow… ssh sh…senang sekali bisa punya bbaayi. Kkamu tahu, Kirno, dulu aku juga pernah punya bayi. Llaaki-laki. Ttapi…” Mirna tak meneruskan kalimatnya. Sepasang matanya tiba-tiba menyala. Ada kilat di mata perempuan itu. Hanya sesaat.

Kirno merasa tak perlu serius menanggapi omongan majikannya. Ia tahu Mirna mabuk berat. Orang mabuk bicaranya suka aneh-aneh. “Lebih baik Ibu mandi dulu dengan air hangat.” Kirno terus memapah Mirna. Seandainya tak ingat gaji besar yang diberikan perempuan itu, sudah lama ia kabur. Membawa angkot jauh lebih manusiawi daripada setiap pagi mengurus orang mabuk.

Tapi tiba-tiba Mirna berhenti. Menatap Kirno. “Aaku nggak mabuk, Kirno. Aaku waras. Sseratus persen waras! Kkamu yang mabuk….Hik hik…. Kkamu lucu kalau mabuk. Bbicaramu ngelantur. Huu… huu-eek!” Mirna cepat-cepat menahan napas sambil membekap mulutnya. Ia tak jadi muntah. "Aaku nggak mabuk kan? Hik hik hik. Huu…" Mirna kembali melangkah. Tangis bayi di rumah sebelah masih terdengar keras. "Ttenang, Kirno. Ttadi aku cuma minum dua gelas. Hik hik. Untung petugas hotel ngasih tahu kalau mau ada razia. Aaku dan Om Damhuri cepat-cepat kabur. Ppa…padahal kita belum selesai. Hik hik hik…."

Tangis bayi di rumah sebelah terdengar semakin keras. Untuk kedua kalinya di tepi batas tipis antara sadar dan mabuk, jantung Mirna tersentak. Lembut tapi cukup menekan….

***

MOBIL Mirna berguncang cukup keras di atas jalan aspal rusak. Berkali-kali Mirna merasakan pinggangnya patah. Buru-buru Mirna membetulkan posisi duduk, menggosok-gosok mata berusaha mengenali daerah itu. Tapi Mirna tidak terlalu ingat. Banyak hal yang menguap dari ingatannya. Tapi Mirna percaya, Kirno, sang sopir pasti tidak kesasar. Mungkin tadi Kirno sudah tanya pada penduduk ketika ia lelap tertidur.

Jalan aspal itu benar-benar parah. Mobil yang dikendarai Kirno harus meliuk-liuk menghindari lubang. Beruntung jalan sepi. Tapi toh mobil itu sesekali tak bisa menghindar. Terperosok dan berguncang hebat. Membuat isi perut Mirna teraduk-aduk mau muntah. Ah, tapi mungkin sudah tidak jauh lagi. Ya, tidak jauh lagi. Tujuh jam perjalanan sudah terlewati. Mirna menarik napas lega.

Benar, kini mobil mulai memasuki jalan kampung. Jalan tanah berbatu dengan tanjakan dan tikungan tajam. Di sebelah kiri jurang dan tebing terjal di kanan. Perlahan-lahan Mirna mulai menemukan memorinya. Matanya menyala. Jalan kampung itu masih belum berubah. Dari dulu. Sembilan tahun lalu. Selalu licin jika turun hujan. Berdebu jika kemarau panjang. Jika tidak hati-hati mobil bisa tergelincir masuk ke dalam jurang. Tapi Mirna percaya Kirno pasti bisa menguasai keadaan.

Mirna tiba-tiba merasakan darahnya berdesir. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Bukan. Bukan karena khawatir mobil meluncur ke jurang. Juga bukan karena berkali-kali pinggangnya patah. Sejak mobil memasuki jalan kampung, diam-diam Mirna disergap perasaan aneh. Mirna bahkan sempat ingin memberi tahu Kirno agar tak usah meneruskan perjalanan. Tapi lidahnya beku. Ia kehilangan kata-kata.

Dan mobil terus meluncur membelah lengang jalan kampung. Debu mengepul sebelum koyak dihempas angin. Meski darahnya terus berdesir dan jantungnya berdetak cepat, Mirna berusaha keras menikmati perjalanannya ini. Ia ingin menemui seseorang. Mirna terus membunuh perasaan ganjil yang tadi menyergapnya. Dari balik kaca Mirna melihat pohon-pohon jati meranggas. Tanah-tanah sawah rekah. Rumah-rumah penduduk reyot dan puluhan anak-anak dekil bermain lumpur di sungai.

Anak-anak? Mirna tiba-tiba tersentak. Ada perih yang menghunjam dadanya. Kembali darah Mirna berdesir. Jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya hingga perlahan-lahan seperti melesak ke dalam lambungnya yang perih dan mual. Mungkin ia akan muntah. Tapi…tidak. Tidak! Ia tidak mabuk! Bola matanya terus menangkap keceriaan anak-anak di sungai. Nun di seberang jembatan.

Mirna membuka jendela. Berharap bisa melihat anak-anak itu lebih dekat. Tapi debu berhamburan masuk. Mirna buru-buru menutup jendela lalu menggosok-gosok matanya yang pedih. Ah, mobil telah melewati jembatan. Tak ada lagi anak-anak. Lumpur dan sungai. Yang ada hanya pohon-pohon jati meranggas di atas tebing sebelah kanan dan gubuk-gubuk reyot nyaris roboh.

"Sudah dua kali kita melewati jalan yang sama. Maaf, sebenarnya Ibu mau pergi ke mana?" Suara Kirno mengejutkan Mirna.

Mirna tak menjawab. Mirna sedang membayangkan dirinya bermain lumpur bersama anak-anak. Berceloteh dan tertawa.

"Apakah tidak sebaiknya kita berhenti sejenak, Bu?"

Kirno kembali bersuara. Ia laki-laki yang cukup sabar. Sudah sembilan jam menyetir mobil dan hanya berhenti satu kali untuk makan, satu kali mengisi bensin. Kini ia mulai merasakan pantatnya panas, matanya pedas. Mobilnya hanya berputar-putar keliling kampung. Sudah dua kali mobil melewati jalan yang sama dan kini hampir memasuki putaran ketiga. Ia tak tahu ke mana tujuan Mirna. Tak ada yang menarik di kampung itu.

Tapi Mirna bungkam. Dalam hati justru berharap mobilnya kembali melintasi jembatan. Ia ingin melihat anak-anak di sungai. Ingin menatap satu per satu wajah anak-anak itu. Dan… ya, kini mobil kembali melintasi jembatan. Tapi anak-anak itu sudah pulang. Sebentar lagi gelap datang.

"Apakah Ibu punya keluarga di sini?" Dalam lengang suara Kirno terdengar keras.

Mirna tersentak dari lamunannya. Keluarga?

"Ya. Ibu punya keluarga di kampung terpencil ini?" Kirno mengulang.

Mirna tak menjawab. Ada senyum getir di sudut bibirnya. Ia kemudian ingat dengan seorang laki-laki tampan dan kekar. Randu. Tapi suatu hari laki-laki itu buta. Jatuh dari pohon kelapa. Ah, laki-laki yang malang. Mirna sebenarnya sudah cukup sabar dan setia melayani laki-laki itu. Dua tahun. Dan laki-laki itu tetap buta tak bisa menghasilkan uang. Tak ada pekerjaan yang mau menghampirinya. Ya, tentu saja, majikan yang paling tolol pun tak akan mau mempekerjakan seorang buta.

Laki-laki buta itu kemudian lebih banyak mengurung diri di kamar. Hingga suatu hari entah kenapa tiba-tiba kulitnya penuh bercak merah, melepuh, gatal, dan bernanah. Tak ada uang untuk berobat, sedangkan untuk bertahan hidup saja sulit. Laki-laki itu semakin merasa tak berguna. Hingga suatu malam, "Mirna, maafkan aku. Kita sedang mendapat cobaan besar. Maukah kau tetap setia menjadi istriku?" Laki-laki itu bersimpuh dan menangis di pangkuan Mirna.

Tak ada kesalahan yang tak bisa dimaafkan, Mirna tahu itu. Tapi laki-laki dari kota itu datang pada saat yang tepat. Imam, seorang kolektor barang antik kesasar di kampung itu. Menginap beberapa hari di rumah penduduk. Suatu hari ia jalan-jalan dan tanpa sengaja ketemu Mirna. Mata laki-laki kota itu blingsatan melihat kecantikan Mirna yang tanpa polesan.

Sudah terlalu lama Mirna bersabar hidup miskin. Ia silau melihat kekayaan dan pesona yang ditebarkan Imam. Pertemuan demi pertemuan berlangsung diam-diam. Tak ada orang kampung yang curiga. Apalagi suami Mirna buta. Imam tak sabar segera memutuskan pulang ke kota dengan membawa "barang antik" yang bisa menjadi teman tidur.

Setahun kemudian barang antik itu dicampakkan….

***

GEMETAR lutut Mirna saat turun dari mobil menginjak jalan tanah berbatu. Melangkah pelan seperti seorang pencuri. Sembilan tahun lebih ia tidak pulang. Jalan kampung itu masih sama, penuh batu dan licin jika turun hujan. Mirna melangkah hati-hati tak ingin ujung lancip batu membuat tubuhnya terguling. Ia tak ingin membuat kegaduhan hanya karena ia tergelincir jatuh sehingga penduduk keluar rumah melihat dirinya.

Dengan membawa bungkusan kardus, Mirna berjalan hati-hati menghindari batu-batu lancip. Dan rumah itu tinggal beberapa meter lagi di depannya. Rumah itu jorok, lebih mirip kandang sapi. Kelihatan sepi seperti tak berpenghuni. Mirna terus melangkah. Ia hanya perlu menyerahkan oleh-oleh itu kepada bocah laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun. Tapi, di mana bocah itu?

Tinggal beberapa langkah lagi Mirna sampai di teras rumah. Tapi mendadak sepasang mata Mirna terkesiap. Ia segera menghentikan langkah. Sesosok laki-laki buta muncul dari balik pintu. Laki-laki itu masih gagah dan kekar. Tapi bekas koreng di tubuhnya tetap belum hilang. Sekian detik Mirna menahan napas. Tapi Mirna ingat, laki-laki itu buta dan pasti tak melihat kedatangannya. Mirna kembali melangkah. Lebih pelan dan hati-hati. Ia hanya akan meletakkan kardus yang ia bawa di teras rumah. Lalu pergi. Pergi! Tapi laki-laki buta itu tiba-tiba berteriak keras. Wajahnya sumringah, bahagia.

"Kobir, kemarilah, Nak! Ayo, kemari! Lihat siapa yang datang. Ibumu sudah pulang membawa oleh-oleh untukmu!"

Kembali Mirna terkesiap. Kaget luar biasa. Meski buta, laki-laki itu bisa mengetahui kedatangannya. Jantung Mirna berdegup sangat keras. Kardus yang ia bawa nyaris jatuh. Pada saat bersamaan bocah laki-laki berusia sepuluh tahun keluar. Bocah laki-laki itu berdiri di samping laki-laki buta. Menatap Mirna dengan binar-binar. Bocah laki-laki itu tersenyum bersiap menyongsong Mirna. Tapi Mirna seperti tak siap menerima kenyataan yang ada di depan matanya. Mirna lebih cepat memutar langkah, bergegas masuk ke dalam mobil sebelum bocah laki-laki itu lari menyambut. Mirna lupa tak meninggalkan kardus bawaannya.

Azan magrib baru saja berkumandang. Mobil Mirna terus meluncur cepat di atas jalan tanah berbatu. Jika tidak hati-hati bisa terperosok ke dalam jurang.

Dan, Kirno, sudah sangat lelah setelah menyopir hampir dua belas jam….

Bookmark and Share

Ibu dan Tikus Kecil

May 11th, 2006 by abcdthea

TIDAK ada yang salah pada Ibu. Juga tidak ada yang salah pada tikus kecil itu. Ibu membenci tikus itu, dan kupikir kalau tikus kecil itu bisa berbicara tentu dia akan berkata bahwa dirinya juga membenci Ibu.

Suatu hari Ibu tiba-tiba menjadi lebih bersemangat dari biasanya, "Ada tikus! Kecil tapi nakal. Akan kutangkap," ujarnya.

Tikus kecil itu bersama saudara-saudaranya (atau mungkin bersama teman-teman sebayanya; aku kurang yakin sebab mereka semua mirip) sering mengintip dari pojok atap dekat AC di ruang televisi. Ibu yang sedang santai nonton televisi tiba-tiba sangat terganggu dengan keberadaan tikus-tikus itu. Mereka sepertinya bergantian memelototi kami yang sedang asik nonton televisi sambil rebahan di sofa. Lebih menyebalkan lagi karena tiba-tiba tahi tikus berceceran di mana-mana. Jika belum kering, tahi itu akan bau dan menempel di lantai hingga jika disapu malah hancur dan menodai ubin atau karpet. Betul-betul bikin repot. Beberapa hari kemudian kami mulai melihat tikus-tikus kecil itu berseliweran di depan kami. Mereka berjalan dengan santai seperti tanpa dosa dan sepertinya wajahnya menggoda kami seolah-olah bilang, "Halo." Lalu berjalan lagi sambil mengendus-endus. Tak lama kemudian pojok-pojok sofa, lap dapur, dan keset sudah bolong-bolong dikerikiti tikus.

Terakhir aku melihat Ibu sesemangat ini adalah saat budeku datang berkunjung dari luar kota beberapa bulan lalu. Segera saja, bermacam jebakan tikus disiapkan Ibu. Mulai dari lem perekat yang lambangnya gajah, jebakan yang bentuknya sama sekali tidak manusiawi dilengkapi gigi-gigi besi (aku membayangkan tubuh tikus yang terjepit di situ pasti langsung sukses terbelah dua), hingga racun tikus yang dilumuri di ikan asin lalu diletakkan di kerangkeng besi. Jebakan-jebakan itu diletakkan di teman-tempat yang telah Ibu survei dan dipercaya merupakan jalur yang biasa dilewati tikus. Aku teringat film Mouse Hunt, tentang dua orang kakak beradik yang terobsesi menangkap tikus di rumah warisan yang akan dilelang. Aku sendiri sebetulnya bukan pencinta tikus, malah cenderung membenci makhluk pengerat itu. Terutama saat suatu hari mobil keluarga kami tiba-tiba tidak bisa jalan. Saat mobil dinyalakan tiba-tiba bersuara aneh dan berhenti mendadak. Ketika kap mobil dIbuka, pemandangan menjijikkan tersaji; seekor tikus yang mungkin kebetulan jalan-jalan di dalam mesin mobil tergencet jadi rata di antara tali kipas! Betul-betul sudah tidak berbentuk tikus lagi. Kecuali karena kami melihat moncong dan buntutnya yang menggelikan itu, maka otopsi dadakan kami meyakinkan bahwa makhluk yang telah hancur itu adalah tikus. Betul-betul pemandangan yang tidak tikusiawi, baunya tidak hilang selama satu minggu dan memaksa kami terus membuka kap mobil saat mobil diparkir di rumah juga memaksa kami harus memeriksakan kesehatan mobil ke bengkel karena ada beberapa kabel yang telah dikunyah putus oleh makhluk pengerat yang sudah jadi perkedel itu.

Sejarah pertempuran Ibu Vs tikus ini, sebetulnya bukan yang pertama. Sebelumnya, ada tikus sebesar anak kucing yang beredar di rumah kami. "Tikus-tikus kecil itu, pasti keturunan tikus bangkotan yang dulu tinggal di selokan depan rumah!" ujar Ibu masih dengan semangat menganalisis perihal tikus. Tikus itu memang sangat besar. Tikus terbesar yang pernah kulihat seumur hidupku. Aku menyebutnya buyut tikus. Dan dia hidup lama sekali, lumayan lama untuk seekor tikus walaupun aku tidak begitu yakin berapa seekor tikus bisa mencapai usia tertua dalam hidupnya. Namun buyut tikus itu beredar cukup lama di rumah kami, dan aku mengacungkan jempol empat (dua jempol tangan, dua jempol kaki) untuk buyut tikus yang menurutku punya sembilan nyawa. Mungkin, karena besarnya bahkan melebihi besar anak kucing, malaikat tanpa sengaja menaruh sembilan nyawa untuk tikus ini sebab ia mengira buyut tikus itu adalah kucing. Bagaimana tidak? Pembantu kami, Bi Inah, pernah mendapati buyut tikus itu sedang jalan-jalan santai masuk ke kamar adikku (aku bilang "jalan-jalan santai" sebab sang tikus memang betul-betul sedang jalan-jalan santai tanpa berlari seperti tikus pada umumnya). Bi Inah menggetoknya dengan gagang sapu ijuk. Beberapa kali digetok dan digencet sapu, ia sempat terpojok. Pembantuku mengira dia sudah mati tetapi begitu Bi Inah melepas gagang sapunya buyut tikus berjalan lagi seperti tak punya dosa dan keluar dari kamar adikku menuju selokan depan. Bi inah malah ketakutan melihat pemandangan ini. Nah, bukankah ini menandakan kalau buyut tikus punya sembilan nyawa? Semenjak insiden digetok gagang sapu itu, buyut tikus kini punya tanda; sebagian bulunya di atas punggungnya botak dan tak tumbuh lagi. Mirip seperti codet yang dimiliki maling-maling akibat golok nyasar ke wajahnya. Setelah itu, aku mendengar kabar bahwa Ibu pemilik warung depan rumah juga pernah memukul buyut tikus dengan sandal. Toh dia tak mati. Buyut tikus juga terlalu pintar menghadapi jebakan-jebakan. Dia tak pernah terjebak sekalipun dengan ikan asin yang telah diberi racun, atau lem tikus, atau jebakan tikus yang bergigi tajam. Jika ada sedikit makanan tak beracun di jebakan itu, dengan cara yang entah makanan itu selalu raib dan jebakan selalu kosong. Aku nobatkan ia sebagai tikus terpintar yang pernah hidup, dan seisi rumah menyetujuinya. Entah kenapa suatu hari buyut tikus tidak muncul lagi. Jebakan tetap dipasang, makanan tetap utuh. Sesekali aku sengaja menunggu kalau-kalau buyut tikus berjalan-jalan santai lagi di depan rumah. Tetapi tidak. Tak ada satu tanda pun buyut tikus beredar. Tiba-tiba beberapa hari kemudian tercium bau bangkai yang samar-samar mulai menyengat. Kami tidak menemukan bangkai itu. Namun kami tahu bahwa itu adalah nyawa kesembilan buyut tikus yang sukses dijagal malaikat maut. Ia tak punya nyawa tersisa. Akhir kisah perjalanan buyut tikus mungkin ia mati tua.

Hey, tunggu dulu, cerita belum selesai, sebab tiba-tiba muncul beberapa keluarga tikus baru yang mulai berjalan-jalan di lingkungan kami. Memang bukan jalan santai seperti yang kerap dilakukan buyut tikus, tapi itu cukup untuk membuktikan bahwa buyut tikus bukanlah tikus perawan tua atau tikus bujang lapuk (berhubung aku tidak begitu yakin dengan jenis kelaminnya) sebab ini membuktikan bahwa dia telah beranak-pinak. Nah, tikus kecil yang sering mengintip kami dari atap saat Ibu menonton televisi sambil rebahan di sofa mungkin adalah salah satu cicitnya.

Tikus kecil ini benar-benar menunjukkan tanda-tanda kalau dia memang cicit dari buyut tikus tulen. Dia mulai suka jalan-jalan santai di lantai, tidak hanya melongok dari atas celah atap. Kemudian tiba-tiba kami mendapati dia berjalan-jalan di meja. Beberapa kue yang tergeletak di meja tiba-tiba tercuil dan ada bekas gigi tikus kecil itu. Dia mulai bertindak menyebalkan! Memakan kue! Kue keluarga kami! Dan tidak bertanggung jawab menghabiskannya! Ibuku paling sebal dengan hal ini, makan tidak dihabiskan. Sebab menurutnya itu mubazir. Nasihatnya, "Lihat orang-orang yang kelaparan di Afrika sana. Beruntung kita bisa makan. Habiskan makananmu!" Kelihatannya nasihat ini juga berlaku untuk tikus. Terlebih lagi, kue yang sudah telanjur digigit tikus tidak akan mau disentuh siapa pun untuk dihabiskan. Ini berarti satu lagi kemubaziran. Tikus kecil ini juga tidak mempan dengan jebakan-jebakan. Beberapa jebakan kami pasang, tapi yang terperangkap adalah tikus yang agak besar. Mungkin itu paman atau sepupu jauh si tikus kecil, aku kurang yakin. Walaupun begitu Ibu tidak puas sebab bukan tikus kecil yang terjebak di sana. Yang pasti si tikus kecil masih tetap beredar di sekitar ruang tengah tempat kami biasa menonton televisi. Yang lebih menyebalkan lagi, si tikus kecil kelihatannya lebih senang beraksi saat ada orang yang menonton televisi (dan kebetulan orang yang sering menonton televisi adalah Ibu). Kelihatannya dia tipe ekshibisionis, tipe yang suka pamer dengan apa yang dilakukannya. Tipe show off.

Suatu hari, Ibu menemukan ide brilian. Sebuah toples kue sengaja diletakkan di meja ruang tengah. Kata Ibu, itu jebakan. Toples ini diisi kue-kue dan dibiarkan terbuka. Ibu bilang itu untuk jebakan tikus.

"Kenapa tidak ikan asin yang ditaruh di toples?" tanyaku.

"Karena tikus kecil itu bukan tipe penyuka makanan asin atau makanan kampung. Lihat saja, dia lebih suka kue-kue yang manis. Lagipula dia memang masih anak-anak. Anak-anak kan memang suka makanan yang manis-manis."

Penjelasan yang aneh, pikirku dalam hati. Toh aku tetap yakin Ibu telah melakukan beberapa survei dan pengamatan lebih jauh perihal perilaku tikus kecil target operasinya, jadi aku manggut-manggut saja.

Ibu juga jadi lebih rajin duduk di depan televisi, pura-pura menonton tapi sebenarnya memperhatikan toples terbuka itu dengan tutup toples yang sudah siap sedia di tangannya. Hingga suatu sore menjelang isya si tikus kecil beraksi, dia berjalan-jalan santai, mengendus-endus dan menyemplungkan diri ke dalam toples untuk mengkerikiti kue manis, dan…hop! Dengan sigap Ibu langsung menutup toples kaca itu. Si tikus terjebak di dalamnya mengendus-endus dan baru tersadar itu adalah jebakan. Ini menunjukkan bahwa manusia masih lebih pintar dibanding tikus. Ibu girang bukan kepalang. Ibu langsung memanggil seluruh penghuni rumah dan menunjukkan dengan bangga hasil kerjanya yang sukses. Kami semua memang lalu takjub melihat pemandangan ini; seekor tikus kecil terjebak di dalam toples kaca bersama kue-kue manis. Ini seperti paman Gober yang tenggelam di antara koin di gudang uangnya. Hebat.

Awalnya kami berpikir bahwa tikus itu akan segera mati kehabisan napas. Tapi perkiraan kami meleset. Sehari, dua hari, tiga hari, empat hari, tikus kecil itu tetap mengendus-endus dinding toples, ia juga memakan kue-kue manis itu. Kami mulai bertanya-tanya dari mana dia dapat udara untuk bernapas? Yang pasti dia pasti masih bernapas. Ibu mulai memutar otak tentang cara membunuh tikus kecil itu secara cepat, seperti membuka dan menyemprotnya dengan racun serangga lalu menutup lagi hingga ia mati kelenger. Tapi bagaimana jika saat dibuka itu si tikus lompat dari toples dan kabur? Akan merepotkan lagi. Akhirnya kami semua menunggu. Seminggu, dua minggu, tikus kecil itu masih tetap mengendus-endus dinding toples. Ia jadi agak gemuk, mungkin karena makan kue terus yang sedikit demi sedikit habis. Isi toples yang tadinya hanya kue dan tikus kini punya penghuni baru; tahi tikus. Bentuknya hitam dan kecil-kecil agak lonjong, tahi-tahi itu mulai menggunung. Ibu tidak lagi khawatir dengan bagaimana membunuh tikus, tapi lebih khawatir dengan toples kesayangannya itu. Perhitungannya terhadap daya hidup si tikus sedikit meleset, sebab ia bertahan cukup lama. Tapi kami semua tetap menunggu.

Aku tidak menghitung pasti berapa lama tikus itu telah berada di dalam toples, tapi kemudian dia tak lagi mengendus-endus. Tubuhnya yang gemuk tiba-tiba terkapar di antara tahi-tahi dan remahan kue yang sudah berjamur. Aku hanya bisa melihat napasnya yang naik turun di perutnya. Kurang lebih satu bulan tikus itu bertahan hidup, hingga kami semua sepakat tak lagi melihat tanda-tanda kehidupan dan tikus resmi jadi mayat. Kami membuka tutup toples yang baunya tak keruan. Menumpahkan isinya di atas selembar koran untuk mengeluarkan mayat tikus.

"Ambil plastik!" kataku menyuruh Bi Inah

"Jangan dibuang, kita kuburkan saja. Ambil kotak sepatu bekas!" Kata Ibu tiba-tiba. Menguburkan? Tak salah? Toh kami tak mencoba menimpali usul Ibu.

Saat semua sibuk mengurus pemakaman si tikus kecil, sedang Ibu mencuci bersih-bersih toples kesayangannya, dengan sebatang kayu, aku iseng membolak-balik tubuh tak bernyawa si tikus. Aku mengamat-amati sambil menutup hidung, tiba-tiba aku melihat sesuatu yang janggal, sesuatu yang sepertinya kukenal. Ada bagian kecil punggung tikus kecil itu yang botak, tak berambut. Mungkinkah, dia buyut tikus yang telah bereinkarnasi? Ia bertahan lama di dalam toples sebab ia juga punya sembilan nyawa, mugkin?

Sore itu ada kuburan kecil di belakang rumah tanpa nisan dan akan segera dilupakan

Bookmark and Share

style Message

April 6th, 2006 by abcdthea

Berikut ini adalah contoh-contoh style Message untuk ajak kenalan
orang yang elo suka di friendster.

style nyelekit 1
hmhmhm..tampangnya ok juga..tidak begitu cantik dan tidak begitu jelek
pantas untuk jadi teman saya…ini email saya xxxx@xxxxx.xxxx

style nyelekit 2
walah, foto hancur begitu..kok PD sekali pasang di friendster? apanggak ada foto lain ? kalau kamu mau saya add jadi temanku, tolong fotonya diganti dulu

style nyelekit 3
walah, kamu cantik tapi juga gendut sekali ya ?, tolong jangan add aku ya!

style nyelekit 4.
kamu cantik tapi masih single, pasti kamu lesbi ya. kalau nggak lesbi pasti bohong. kalau kamu marah
atau tersinggung, jangan lewat email, kita ketemuan aja. Kalau nggak berani ketemuan, memang benar
pasti kamu lesbi

style PD 1
kamu cantik tapi sayang sudah bercowok. sayang sekali cowok kamu jelek, item, miskin, tolol. sebaiknya saran saya, jangan pernah jadian dulu kalau belum ketemu saya. ini saya kasih kesempatan,
nomor hp saya : 081-xxxx-x-xxxx.

style PD 2
aduh cantiknya , kenalan dong. kebetulan nih tampangku keren, pasti banyak yang kira kita pacaran,
kalau aku lagi jalan sama kamu. aku add kamu ya

style standard
hai, boleh kenalan nggak ?, add aku ya di xxxx@xxxx.xxxx

style iseng
boleh minta no hp dong, alamat rumah, telp rumah, alamat kantor, telp kantor bales ya!

style iseng 2
tampang kamu mirip pacar saya !, jangan-jangan kamu kembarannya ya ?

style iseng 3
kamu mirip teman saya deh, atau jangan2 kamu memang pernah jadi teman saya, atau mungkin kita pernah ketemu kali ya di suatu tempat.?. kamu merasa kenal aku nggak sebelumnya ?

style hopeless
please…dong…jadi temanku…aku tahu kamu cantik..aku jelek… tapi mau kan jadi temanku..siapa tahu kita bisa jadian. temanku di friendster baru 2 orang lho. sudah 6 bulan minta add ke banyak cewek, tapi ditolak terus. mudah-mudahan kamu mau, soalnya kamu kan baik, aku percaya kok kamu pada dasarnya baik, hati kamu pasti seputih kulit kamu.

style hopeless 2
hai sayang,aku sudah bosan hidup nih, tolong dong, jangan buat aku bunuh diri. aku lagi pegang pisau
nih, siap2 mau bunuh diri. kalau kamu nggak mau add jadi temanku, kamu besok baca koran poskota dan
lampu merah ya. pasti nama kamu disebut2 disitu. aku kasih waktu 1 x 24 jam atau kamu besok baca headline ini. SEORANG PEMUDA MATI BUNUH DIRI KARENA DITOLAK AJAK KENALAN OLEH SEORANG BERNAMA XXXXX (nama kamu tuh !)

style tajir , mupeng dan PD sekali
kamu cantik dan sexy sekali, malam minggu besok jalan sama aku ya ini nomor hpku: 081-xxxxx-xxxxx, aku biasa bawa mobil mercedes benz serie 7, tapi kalau lagi males aku bawa jaguar aja, kalau kamu ingin yang biasa-biasa aja, aku juga baru beli Vios kok. o’ya Apartementku di sudirman lagi kosong lho, nanti kita bermalam minggu disana semalaman nggak apa-apa kan?, mudah-mudahan cowok kamu nggak keberatan. Kalau cowok kamu keberatan, aku punya pembantu wanita yang masih single, nanti suruh cowok kamu bermalam di kamar pembantuku aja ya.

style malu-malu mau
hai….boleh kenalan nggak ?

style agresif ngesellin
hai, kenapa sih nggak mau kenalan sama aku. aku sudah kirim message 45 kali kok, dicuekin terus sih ? memang kamu siapa ? memang saya siapa ? gue tahu elo cantik dan sexy, tapi bukan berarti bla blab
lab labla blabla blablablabla

style sok akrab 1

hai kamu temannya si anu ya, aku tahu kamu dari si anu. bagaimana khabar kamu ? bapak-ibu gimana ?
adik-kakak gimana ? sehat-sehat saja kan ? udah lulus atau udah kerja ?. aku boleh add kamu ya?

style sok akrab 2 + nyelekit
ya ampun, kamu masih inget saya? aku kan dulu teman SD/SMP/SMA kamu, kamu kan dulu pernah nembak
saya. Maaf dulu kamu saya tolak, soalnya kamu tuh dulu jelek banget, sekarang kok jadi cantik begini ?. operasi plastik di mana ya ? jangan lupa add aku ya, kalau kamu masih penasaran sama aku , nggak
apa-apa kok kalau mau nembak aku lagi. Pasti aku terima dengan senang hati

style sok akrab 3 + ngegombal
hai, denger-denger kamu habis putus ya dari si ‘anu’. kamu pasti sedih sekali ya, bagaimana kalau
saya datang ke rumah kamu untuk menghibur hati kamu yang luka ?. Aku tidak habis pikir bagaimana
mungkin ada orang secantik kamu ini ada yang tega melukai hati kamu yang bening seindah kristal ini,
pasti sangat menyakitkan buat orang secantik kamu. ini nomor hpku: 081-xxxx-xxxx

style gila 1
kalau kamu sedang kesepian, mungkin saya adalah orang yang tepat untuk dijadikan pacar, kalau kamu
sedang punya pacar, mungkin pacar kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan saya, kalau kamu sedang
merencanakan perkawinan, batalkan saja, nikahlah denganku saja, kalau kamu sudah kawin, tolong
ceraikan suami kamu, kamu ditanggung tidak akan menyesal mendapatkan aku

style gila 2
hai, kamu tolong lihat foto2 saya di friendster ya. kalau kamu ingin lihat saya dalam keadaan
polos/bugil, aku akan kirimkan fotonya dengan syarat kamu kasih saya nomor hp kamu:

style ngegombal 1
aku tidak percaya dari 5 milyard penduduk dunia, ternyata ada satu makhluk termanis yang tidak
pernah saya lihat sebelumnya. Makhluk itu adalah kamu. Kamu memang diciptakan khusus untukku. Terima
kasih Tuhan telah mempertemukan belahan jiwaku lewat friendster.com. Sayang, will you marry me ?

style ngegombal 2
Oh My God, Finally I have found someone, and it was you !, give me your phone number soon, and i
will pick you up as soon as possible. and we will looking for ‘pendeta/penghulu’ right now to bless
our marriage. do you agree with that ?

style kurang ajar 1
hai. One Night Stand yuk !, nanti kamu boleh add aku deh jadi temanku

style kurang ajar 2
hai. tarif kamu semalam berapa ?

style kurang ajar 3 + sok akrab
hai, kayanya kita pernah kenal deh, kamu kan selingkuhannya si ‘X’ teman saya yang istrinya 2.

style tolol
hai, aku baru join di friendster, bisa tolong ajarin aku nggak caranya makai friendster? tolong datang ya ke rumahku atau kantorku. ini alamatnya balblablblblablablablaba

style tolol 2
hai, boleh tanya nggak ya. sekarang jam berapa ya ?. maaf jam saya mati.

style tolol 3
hai, boleh tanya nggak ya. kalau dari Blok M mau ke Bandung, naik bus nomor berapa ya ?

style tolol 4
hai, boleh tahu password kamu nggak ? aku lupa password aku , mungkin saja passwordku sama dengan password kamu

nah tambahin sendiri deh, sesuai dengan pengalaman masing-masing D

Bookmark and Share

Lagu Sunda di bajak

February 9th, 2006 by abcdthea
Baru tahu saya, ternyata lagu-lagu bahasa sunda sudah tersohor kemana-mana, hingga para musisi kulon (barat) menjiplak (membajak) hasil karya orang2 Indonesia.
Hebaaaaaaaaaaat lah, tapi bagaimana tindaklanjutnya, kalau memang lagu-lagu bhs sunda tsb dibajak. Lantas bagaimana para musisi kita, kalau karya mereka dibajak, apakah mau diam saja ?
Bukankah selama ini justru kita yang pandai membajak hasil karya musisi orang2 kulon (barat) ?
Akh….buta saya terhadap perkembangan permusikan, jadi kalau memang itu terjadi, gugat saja.
Sebab saya percaya, karena banyak di negeri kita ini yg bunyinya nyaring kalau mengkorek kesalahan orang lain, jadi nyaringkanlah suara ini hingga kedengaran sama Mick Jagger.
Lagu                                Bajakannana         Borokokok nu ngabajakna 
Pileuleuyan               >>  Goodbye               Air Supply 
Neng Geulis             >>   Pretty Woman       Ray Robinson 
                                       Beautiful Girl        Jose Mari Chan 
Potret Manehna        >>  Picture of You       The Cure 
Awewe Sapi Daging   >> Material Girl           Madonna 
Eplok Cendol           >> Fat Bottom Girl      Queen 
Cing Tulungan   >>         Bring me to life      Evanescene
                         >>         Save me                  Queen 
Teu Honcewang     >>   Dispossable Heroes  Metallica 
Emen           >>             Superman                 Five for Fighting 
Berenyit      >>             So Young                  The Corrs 
Manuk Dadali         >>   On a High                 Duncan Sheik 
Linu              >>           Unwell                      Matchbox 21 
Jol                >>           Welcome Home        Metallica 
Bajing Luncat       >>  Jump                         Van Halen 
Kamana                 >>   Why Go                     Pearl Jump 
Euis               >>           A Letter to               The Cure 
Sagagang Kembang  >>    Bed of Roses         Bon Jovi 
Bang Bung Ranggaek  >>  Bang Bang            Gorky Park
Bookmark and Share